MEDANHEADLINES.COM, Medan – Setelah kerap diserbu berita Hoaks dalam setengah tahun belakangan, Calon Presiden Nomor urut 01, Joko Widodo akhirnya angkat bicara.
Hal itu disampaikannya saat berpidato di acara Silaturrahim dan Pembekalan Caleg Koalisi Indonesia Kerja, di Hotel JW. Marriot Medan, Sumatera Utara, Sabtu (16/3).
Jokowi menerangkan, berita hoaks yang disampaikan tentang dirinya cukup banyak mulai dari Jokowi antek asing, PKI, anti islam dan ulama, melarang suara azan, pendidikan agama akan dihapus, pelegalan zina dan perkawinan sejenis. Menjawab semua fitnah itu, Jokowi menerangkan, selama 50 tahun blok minyak terbesar di Mahakam dikelola oleh Negara Perancis dan Jepang. Namun, di tahun 2015 berhasil direbut dan seratus persen diserahkan kepada PT. Pertamina Persero.
Begitu juga dengan blok minyak yang dikelola PT. Chevron selama sembilan tahun lebih, di 2018 blok minyak itu seratus persen dikelola PT. Pertamina. Di akhir Desember 2018, PT. Inalum berhasil menguasai 51,2 persen PT. Freeport, yang dikelola selama 40 tahun dikelola oleh PT. Freeport- McMoran.
“Itu dibilang antek asing, dipikir mengambil alih seperti itu mudah, gampang. Kalau mudah dan gampang sudah kita ambil dari dulu,” ucap Jokowi yang disambut yel-yel oleh para peserta.
“Ini adalah pekerjaan besar dan sangat-sangat sulit, jangan dipikir masalah ini tidak ada intrik politik besar Internasional. Menteri-menteri yang saya perintahkan maju mundur, terus saya sampaikan, pelaksanaannya itu di kamu, tapi resiko politiknya itu ke saya. Saya tanggungjawab, gak apa resikonya ke saya. Tapi jalankan, selesaikan, rampungkan. Ya… alhamdulillah selesai,” tambahnya diikuti sorakan hidup Jokowi dan tepuk tangan para peserta.
Jokowi menjelaskan, hal seperti ini masih banyak rakyat tidak mengetahui, ini bisa bapak, ibu, saudara, saudari pakai untuk penerobosan ke masyarakat. Berita hoaks berikutnya, lanjutnya, ada yang mengatakan bahwa Jokowi itu PKI. Berita itu menyebar di medsos, ada gambar Ketua Partai PKI DN Aidid sedang berpidato pada acara pemilu tahun 1955, terus ada foto Jokowi di dekatnya.
“Di sini saya sampaikan, saya itu lahir tahun 1961, sementara PKI dibubarkan 1965-1966, jadi umur saya waktu itu baru empat tahun, tidak ada PKI balita,” ujarnya yang disambut gelak tawa peserta.
Ingat, hasil survei di akhir Desember 2018 kemarin, sembilan juta orang percaya dengan isu antek asing dan isu PKI ini, jadi hati-hati. “Kalau kita tidak meluruskan hal ini, nanti akan menjadi sebuah kebenaran. Setengah tahun saya bersabar menahan isu ini, sekarang saya jawab, tapi ini saya bukan marah, ya. Saya menjawab isu-isu supaya nanti tidak dibelok-belokan ke mana-mana,” pungkasnya.
Menjawab isu Jokowi, orang yang anti islam, ulama dan jika terpilih menjadi presiden akan melarang suara azan, pendidikan agama akan dihapus, perkawinan sejenis dan zina akan dilegalkan. Dengan tenang Jokowi mengatakan, kalau anti islam, dirinya tidak akan menandatangani hari santri pada 22 Oktober 2015. Kemudian lihat Cawapresnya ulama besar sekaligus Ketua Majelis Ulama Indonesia, KH. Ma’ruf Amin. “Kok saya dibilang anti islam, logikanya gak masuk. Tapi, kalau tidak bisa menjelaskan kepada masyarakat, ini akan termakan dan bisa masuk dalam survei sembilan juta itu. Kalau kita tidak menjawab, angka itu bisa terus bertambah, jadi hati-hati,” ingatnya kepada para pendukung.
“Semua isu itu sudah mulai masuk di kalangan bawah, kalau tidak kita jawab dan diluruskan dengan logika sederhana dan masuk akal, masyarakat bisa termakan dengan isu itu, percaya sama saya,” tegas Capres 01 disambut teriakan hidup Jokowi oleh para pendukungnya. (red)












