Sahat Simatupang
MEDANHEADLINES.COM, Medan – Dewan Pimpinan Pusat Relawan Indonesia Kerja berharap setelah bebasnya Basuki Tjahaja Purnama tidak disambut berlebihan oleh para sahabat dan pendukungnya. Hal itu untuk menghindari pendapat pro dan kontra terhadap pembebasannya.
Sahat Simatupang, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Relawan Indonesia Kerja (RIK) mengatakan dirinya meyakini masih ada masyarakat yang menganggap pembebasan Basuki Tjahaja Purnama (BTP) sebagai pemberian pemerintah.
“Padahal BTP dibebaskan karena masa hukumannya sudah berakhir, atau bebas murni. Jangan dibandingkan dengan proses pembebasan Ustad Abu Bakar Baasyir,” ungkapnya, Kamis (24/1).
Karena itu dia berharap pembebasan BTP disambut dengan biasa-biasa saja oleh politisi partai atau para pendukungnya. Sedangkan untuk BTP dia anjurkan untuk berlibur setelah keluar dari penjara, hari ini.
Liburan panjang ke luar negeri, menurutnya, adalah pilihan terbaik untuk BTP untuk menyegarkan kondisinya. Sekaligus menghindari politisi yang pro dan kontra terhadap sikapnya selama ini, apalagi kini menjelang Pemilu 2019.
Terlepas dari pro dan kontra, dia menegaskan bahwa pembebasan tersebut mengartikan kesalahan BTP yang divonis dua tahun penjara akibat dilaporkan sebagai penista agama, sudah berakhir.
Pada bagian lain, dia juga mengkritisi pendapat mantan Dosen Filsafat UI, Rocky Gerung. Sahat menilai pernyataan Rocky mengenai pencapaian ekonomi Indonesia saat ini, sebagai kebohongan menyesatkan publik.
Sebelumnya, Rocky menyatakan kondisi perekonomian negara di bawah pemerintahan Joko Widodo tidak ada yang menunjukkan kesuksesan. Pernyataan itu dia lontarkan dalam sebuah diskusi di kantor DPW Pribumi Bersatu Sumut di Jalan Tenis 8, Kecamatan Medan Kota, Rabu (23/1).
“Rocky suka mengada-ada dengan memakai bahasa metaforik. Dia tidak melihat perkembangan Sumut dengan pertumbuhan ekonomi yang selalu diatas rata-rata nasional,” terang Sahat.
Dia juga membantah perkataan Rocky bahwa investor akan sulit masuk karena perekonomian lemah. Untuk melihat contohnya, Sahat mengajak Rocky berkunjung ke Pelabuhan Kuala Tanjung di Kabupaten Batubara. Hal itu agar Rocky dapat melihat langsung banyaknya investor yang tertarik bekerjasama membangun berbagai fasilitas salah satu pelabuhan petikemas terbesar di Sumatra tersebut.
Perkembangan terbaru, Pelabuhan Kuala Tanjung bahkan sudah kedatangan perusahaan pelayaran besar dari Taiwan, Hanwa Lines. Perusahaan ini, kata Sahat, bahkan sudah mulai melakukan pelayaran langsung membawa bahan baku CPO dan turunannya ke Shanghai, pada akhir Desember.(cep)












