MEDANHEADLINES, – Sejak erupsi pada Juni 2013 hingga sekarang belum ada tanda-tanda erupsi Gunung sinabung akan berakhir. Bahkan pada Selasa (1/11/2016) Gunung Sinabung telah berlangsung 9 kali luncuran awan panas guguran.
Penanganan pengungsi korban erupsi Gunung Sinabung di Kabupaten Karo Provinsi Sumatera Utara terus dilakukan oleh pemerintah dan dibagi menjadi 3 bagian yaitu,pertama sebanyak 370 KK dari 3 desa di radius 3 km yaitu Desa Bekerah, Simacem dan Sukameriah telah direlokasi di Siosar. Masyarakat telah menempati hunian tetap (huntap) lengkap dengan fasum dan fasosnya. Disamping itu juga diberikan ijin pinjam pakai lahan usaha tani dari Kementerrian LHK seluas 0,5 Ha per KK selama 20 tahun.
Yang Kedua adalah relokasi mandiri sebanyak 1.903 KK, melalui dana hibah rehabilitasi dan rekonstruksi tahun 2015. BNPB telah menganggarkan Rp.190,6 milyar sesuai pengajuan Bupati Karo yang tertuang dalam SK Bupati Karo (by name by address). Dana tersebut telah ditransfer ke APBD Karo pada Desember 2015 untuk bantuan pembangunan Huntap sebanyak 1.683 KK. Awalnya relokasi tahap kedua ini adalah 1.683 KK. Namun kemudian Pemda Karo mengusulkan tambahan sebanyak 221 KK sehingga total 1.903 KK warga yang harus direlokasi tahap kedua.Tambahan dana untuk relokasi 221 KK ini telah disampaikan ke Menteri Keuangan dan akan direalisasikan melalui hibah rehabilitasi dan rekonstruksi tahun 2016/2017 dan akan diverifikasi/validasi serta diperkuat melalui SK Bupati Karo by name by address.
Sementara penangan ketiga adalah penanganan pengungsi sebanyak 2.592 KK yang saat ini msh berada di 9 pos penampungan pengungsi. Mereka tidak perlu relokasi. Mereka diperbolehkan kembali ke desanya saat kondisi Gunung Sinabung sudah aman. Namun tidak ada yang tahu kapan G.Sinabung akan aman atau tidak erupsi.
“ Penanganan pengungsi Gunung Sinabung memang rumit. Selain gunungnya masih erupsi, terbatasnya lahan untuk relokasi dan lahan pertanian, serta terbatasnya kapasitas di Pemda Karo. Ditambah lagi dengan Konflik sosial antara pengungsi dengan pemda dan masyarakat makin menyulitkan dalam penanganan pengungsi” ungkap Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo purwo Nugroho.
“ Kuncinya adalah ketersediaan lahan. Jika lahan tersedia maka proses relokasi untuk huntap dan lahan pertanian masyarakat dapat berjalan cepat ” tambahnya.(RLS)











