Sumut  

Sering Diterpa Berita Miring, KPU Sumut : Lawan Hoaks Harga Mati

kpu Sumut*

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Dalam Kurun waktu beberapa bulan terakhir, Komisi Pemilihan Umum (KPU) sering kali diterpa berita-berita miring yang dilakukan oleh orang-orang tak bertanggung jawab

Beberapa berita miring yang beredar itu adalah 14 juta orang tidak waras atau tunagrahita masuk daftar pemilih tetap (DPT), kotak suara kardus hingga 7 kontainer surat suara yang tercoblos.

Menaggapi hal itu, Komisioner KPU Sumut, Syafrial Syah kemudian mengajak seluruh pihak untuk terus melawan isu hoax karena dapat membuat masyarakat bingung

“Lawan terus hoax, karena itu harga mati. Kritisi silahkan, tapi sehat dan membangun. Ke depan atau Pemilu 2019 berjalan dengan baik,” kata Syafrial saat diskusi yang digelar JaDI (Jaringan Demokrasi Indonesia) Sumut, di Universitas Medan Area, Rabu (9/1/2019).

Dijelaskannya, KPU pertama kali diterpa isu tentang adanya 14 juta orang gila atau tunagrahita yang masuk DPT. Namun, setelah diteliti jumlah tunagrahita yang masuk DPT nasional hanya 54.290 jiwa.

“Jika dipersentasekan 0,28 %, tidak sampai 1 %. Di sumut dari 9.785.000 lebih jumlah DPT, orang yang dianggap tunagrahita atau kurang waras hanya 1.714 jiwa, sangat sedikit,” paparnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif, JaDI Sumut, Nazir Salim Manik, menilai ada perbedaan atau isu yang muncul saat pemilu saat ini dengan pemilu sebelumnya.

” Kalau Dahulu literasi menyerang individu. Sedangkan saat ini merambah ke instansi. “Isu hoax terus berganti mulai dari kotak suara kardus, kertas suara tercoblos. Besok kita tidak tahu apalagi isu hoax yang akan muncul,” ungkapnya.

Diakuinya, informasi hoax akan mengganggu pelaksanaan pemilu. Selain itu, menggunakan agama untuk kepentingan politik merupakan tindakan tidak terpuji.

Mantan Komisioner Sumut ini meminta para penyelenggara pemilu untuk netral. Selain itu, penyelenggara pemilu juga perlu melakukan pendidikan politik kepada masyarakat bahwa pemilu merupakan upaya pemerintah untuk membangun demokrasi di Indonesia.

“Apapun hasilnya semua peserta pemilu harus menerimanya. Bukan hanya siap menang tapi juga siap kalah. Selain itu hasil pemilu jangan sampai membuat masyarakat terbelah, karena apapun hasilnya kita semua tetap bersaudara,” Pungkasnya. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.