UMKM di Gojek Lebih Tahan Pandemi

Wakil Kepala LD FEB-UI Paksi CK Walandouw mengatakan, upaya yang dilakukan Gojek telah menciptakan multiplier effect yang besar/ Rha

MEDANHEADLINES.COM – Upaya menumbuhkan semangat saling membantu di jaringan ekosistem Gojek terbukti berdampak positif terhadap ketahanan mitra Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang terhubung secara langsung maupun tidak langsung di tengah krisis pandemi Covid-19 .

Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB-UI) dalam riset terkait dampak sosial ekonomi Gojek yang dipaparkan pada diskusi secara daring, Senin (3/8) kemarin. Mencatat bila ekosistem Gojek telah menunjukkan sikap saling membantu sesama mitra meskipun tidak ada kewajiban untuk melakukan hal tersebut.

“Selama pandemi, mitra yang tergabung dalam ekosistem tidak membiarkan dirinya untuk jatuh. Jadi 85 persen mitra pengemudi mendapat bantuan dari ekosistemnya,” kata peneliti LD FEB-UI, Alfindra Primaldhi.

Dia mencontohkan, mitra aplikator besutan anak bangsa ini saling membantu dalam bentuk pemberian bantuan sosial oleh mitra GoFood untuk mitra GoRide ataupun pemberian tips oleh konsumen kepada mitra pengemudi Gojek.

Dari sisi perusahaan, Gojek membantu ekosistem digital yang dikelolanya untuk dapat berrtahan di saat pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Pasalnya, mitra pengemudi terdampak penghasilannya akibat pembatasan operasional.

“Gojek mendorong orang untuk berperilaku baik dengan memudahkan konsumen bisa memberi tips lebih besar lewat aplikasinya. Lalu ada periode promosi yang dilakukan GoFood yang tentunya membantu UMKM mitranya bertahan karena daya beli masyarakat juga rendah saat itu. Gojek juga membantu para pebisnis pemula migrasi ke teknologi digital dengan mudah,” tutur Alfindra.

Wakil Kepala LD FEB-UI Paksi CK Walandouw menambahkan, upaya yang dilakukan Gojek telah menciptakan multiplier effect yang besar. Karena dukungan yang besar itu, mitra pengemudi mengakui akan bertahan di Gojek untuk jangka waktu yang lama.

“Mereka mengaku akan tetap menjadikan Gojek sebagai pekerjaan untuk menafkahi keluarganya. Bahkan mereka percaya dengan dibukanya layanan GoRide seiring pelonggaraan PSBB, mereka optimistis permintaan atas layanan itu akan pulih lagi,” tukas Paksi.

Pada 2019, ekosistem Gojek mampu menyumbang Rp 104,6 triliun. Dari jumlah tersebut, sebanyak Rp 87,1 triliun dikontribusikan secara langsung dari ekosistem Gojek dan sisanya Rp 17,5 triliun merupakan kontribusi tidak langsung melalui dampak multiplier yang diperoleh dari luar ekosistem.

Bila menggunakan metode penghitungan PDB, dampak sosial ekonomi Gojek setara dengan 1 persen PDB nasional. Menurut Paksi, dengan bergabung di ekosistem Gojek, 70 persen mitra pengemudi mengakui mulai mampu secara rutin menabung dari penghasilannya. Bahkan di antaranya, yaitu sebanyak 16 persen, baru kali ini memiliki rekening tabungan setelah bergabung dengan Gojek. (Rha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *