Berkaca dari Gojek, Mahasiswa UNSRI Belajar Ekonomi Digital

Universitas Sriwijaya mengundang Gojek untuk memberikan pengetahuan kepada para mahasiswa soal dampak Gojek bagi perekonomian di Kota Palembang/handout

MEDANHEADLINES.COM – Perkembangan ekonomi digital di Indonesia terus meningkat pesat. Salah satu perusahaan raksasa ekonomi digital Indonesia adalah Gojek. Tak tanggung-tanggung, Riset Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) menyatakan, kontribusi Gojek terhadap perekonomian Indonesia sampai 2018 mencapai Rp44,2 triliun.

Penghitungan kontribusi dari riset tersebut didapat dari selisih pendapatan mitra dan pemilik UMKM sebelum dan sesudah bergabung ke Gojek. Secara rinci, Gojek menyumbangkan Rp16,5 triliun per tahun melalui selisih pendapatan masyarakat sebelum dan sesudah menjadi mitra Go-Ride, serta Rp8,5 triliun per tahun sebelum dan sesudah menjadi mitra Go-Car.

Sementara itu, mitra Go-Life menyumbangkan Rp1,2 triliun per tahun. Adapun selisih omzet sebelum dan sesudah menjadi mitra UMKM GO-Food memperoleh kontribusi tertinggi di antara sektor lainnya, yaitu mencapai Rp18 triliun.

“Dengan angka-angka itu, kita dapat mengukur berapa jumlah kontribusi yang bisa dihasilkan dan juga lapangan pekerjaan. Inilah yang membuat politeknik Universitas Sriwijaya mengundang Gojek untuk memberikan pengetahuan kepada para mahasiswa kemarin. Mengulas dampak Gojek bagi perekonomian di Kota Palembang,” kata Head Of Regional Corporate Affairs Sumatera Teuku Parvinanda, Jumat (8/11).

“Kalau Ccuma lapangan pekerjaan, tapi tidak berkelanjutan kan itu bukan kontribusi. Gojek ingin membuka lapangan pekerjaan yang berkelanjutan dan berpenghasilan,” sambungnya.

Teuku tak asal klaim, masih berdasarkan riset LD FEB UI, tercatat survei penghasilan rata-rata mitra Gojek melebihi rata-rata upah minimum kabupaten dan kota.

Riset juga menyebutkan bahwa mitra Gojek lebih sejahtera dan naik mobilitas ekonominya semenjak bergabung. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan wawancara tatap muka yang melibatkan 6.732 respoden. Pemilihan responden dilakukan dengan menggunakan simple random sampling dengan margin of error di bawah 3,5 persen.

Pengamat ekonomi Yan Sulistiyo menyebutkan bahwa ukurannya tidak hanya kepada angka tetapi juga keteraturan dan shifting ketika teknologi itu masuk ke suatu daerah. Contohnya Go-car, dulu taksi gelap dan konvensional bisa menembak harga. Sekarang harga ditentukan oleh aplikasi. Pola transaksinya jadi berubah.

“Kontribusi seperti ini yang kemudian mengubah perilaku masyarakat Kota Palembang,” kata Yan.

Maka tak salah, apabila sebanyak 89 persen konsumen mengatakan Go-Jek telah memberikan dampak yang baik bagi masyarakat secara umum seperti dilansir katadata.co.id. Akibat besarnya kontribusi bagi perekeonomian, GoJek mendapat predikat aplikasi favorit bagi kalangan milenial. Survei Alvara yang melibatkan 1.204 responden dari Jakarta, Bodetabek, Bali, Padang, Yogyakarta, dan Manado menunjukkan Gojek menjadi ojek online favorit di kalangan milenial dibandingkan pesaingnya Grab.

Sebanyak 70,4 persen responden memilih menggunakan Gojek, sedangkan responden yang memilih ojol lain hanya sebesar 45,7 persen. Responden menilai kinerja Gojek lebih baik, hal ini ditunjukkan dengan keunggulan di semua indikator brand performance. Indikator pertama adalah image dengan penilaian Gojek sebesar 71,7 persen dan Grab 70,2 persen.

Loyalty menjadi indikator kedua dengan 70,6 persen penilaian untuk Gojek dan 69,9 persen untuk Grab. Indikator ketiga adalah engagement dengan nilai 69,8 persen untuk Gojek dan 68,2 persen untuk Grab. Untuk indikator performance, Gojek memperoleh 70,7 persen sedangkan Grab 69,4 persen. (Rha)

Please follow and like us:
error0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *