MEDANHEADLINES.COM, Medan- Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan bersama Alwi Shihab mendatangi kantor Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Sumatera Utara, Jumat (12/4/2019) malam. Keduanya didaulat menceritakan pengalamannya mengenal Presiden Joko Widodo sehingga bisa menjadi alasan kaum milenial untuk memilihnya menjadi presiden kembali.
Sebelum luhut berbicara, Ketua AMPI Sumut David Luther Lubis dalam sambutanya mengatakan, kedatangan Luhut adalah sejarah bagi mereka. Apalagi sampai mau duduk dan berbincang di lantai tiga kantor mereka. Baginya, Luhut adalah salah satu tokoh panutannya karena bisa membuktikan cara memimpin dan membina keluarga dengan gemilang.
“Ini sejarah sama kami. Kantor kami yang tak seberapa ini dikunjungi Pak Luhut. Di umurnya yang ke-70 tahun, Bapak Menko masih enerjik, masih punya stamina yang prima. Hari ini kita mau mendengar mengenai Presiden Jokowi yang sudah dikenal mulai walikota Solo dulu,” ucap David.
Luhut lalu berdiri, dia membalas pujian Davit dengan mengatakan, David juga patut menjadi contoh buat generasi milenial. Khususnya di bidang kedokteran karena prestasinya yang luar biasa. Untuk menjadi orang sukses, katanya, ada tiga yang harus diperhatikan yaitu selalu olah fikir dan berfikir positif, punya karakter dan pribadi yang baik, terakhir kesehatan.
“Setiap manusia itu sudah punya blue print hidupnya. Nah, Pak Jokowi ini datang dari keluarga sederhana. Saya sudah mengenalnya hampir 12 tahun,” ucapnya.
Paling dia ingat, dari pertama kali kenal sampai hari ini tidak ada perubahan. Tetap sederhana dan tidak ada yang berubah dengan gayanya. Luhut bilang, dari dulu sepatunya pasti lebih bagus dari sepatu Jokowi. Menurutnya, Jokowi selalu pakai sepatu buatan dalam negeri.
“Saya sudah pensiun, saya pengusaha, sepatu saya sudah Ferragamo. Sudah kelamaan saya pakai sepatu tentara. Hari ini, beliau presiden, sama aja, gak berubah. Kain bajunya, baju putih presiden itu, lebih bagus kain baju putih saya. Tukang jahitnya pun sama, jas dan dasinya pun sama. Jadi be your self, tidak perlu kamu menjadi aneh-aneh,” cerocosnya.
“Kehormatan yang kita terima bukan karena pakaian yang kita kenakan, tapi bagaima sikap mu. Jadi yang perlu dilihat dari Jokowi adalah seorang model yang patut dicontoh, dia tidak memiliki bisnis…” sambung Luhut.
Sebulan yang lalu mereka bertemu, Luhut lalu bertanya kenapa Jokowi kembali mengeluarkan kartu Indonesia Pintar. Jawab Jokowi: saya ini berasal dari keluarga sederhana, kami tiga kali digusur dari bantaran Begawan Solo. Ayah saya cuma seorang supir, ibu hanya pekerja rumah. Saya waktu itu sempat ragu dengan masa depan saya, bisa tidak masuk universitas. Alhamdulillah saya lulus di UGM…
Sekarang saya presiden, saya tidak mau perasaan seperti itu ada di anak muda Indonesia. Oleh karena itu, dua minggu lalu saya minta Menteri Keuangan supaya mengkaji anggaran. Saya mau harus ada dana untuk beasiswa kepada anak-anak di seluruh Indonesia yang pintar-pintar masuk universitas agar mereka bisa berkembang. Ke luar negeri juga bisa, supaya Indonesia lebih maju.
“Ini membuka mata saya bahwa Pak Jokowi merefleksikan dirinya supaya Indonesia ini lebih baik. Jadi adik-adik sekalian, kalian pun jangan ragu dengan masa depan. Kalian ingat tiga hal tadi, ingat contoh dari Pak Jokowi,” katanya lagi.
Saya punya bapak, lanjut Luhut, juga supir bus Sibual-buali. Saya lahir dari seorang ibu yang tidak tamat Sekolah Rakyat (SR). Namun lima anaknya semua masuk universitas terkenal, kenapa? karena ayah dan ibu mendorong kami untuk terus belajar.
“Nah, kalian, di era digital sekarang ini juga harus begitu. Pak Jokowi itu sangat suka dan cinta dengan masalah-masalah digital dan milenial,” imbuhnya.
Sebelum meninggalkan lokasi, Luhut berpesan saat menentukan pilihan pada 17 April 2019 nanti, meski berbeda harus tetap berkawan. Dia mencontohkan dengan teh dan kopi, tinggal pilihan saja mana yang disukai. Jangan sampai ada keributan, pesannya. Dia juga mengingatkan agar para kaum milenial tidak mudah percaya berita bohong yang beredar dan memanaskan suasana jelang pemilu ini (Afd).










