Usut Kasus Kerangkeng Manusia di rumah Bupati Langkat nonaktif, LPSK Paparkan 17 Temuan

Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi Pasaribu memaparkan hasil temuan di Kantor LPSK Jakarta, Senin. (ANTARA/Muhammad Zulfikar)

MEDANHEADLINES.COM – Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) memaparkan adanya 17 temuan terbaru terkait kerangkeng di rumah Bupati Langkat nonaktif Terbit Rencana Perangin-angin yang berada di Desa Raja Tengah Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.



Seperti dilansir dari Antara, Wakil Ketua LPSK Edwin Partogi Pasaribu di Kantor LPSK Jakarta, Senin (31/1) memaparkan bahwa tidak semua tahanan yang berada dilokasi merupakan pecandu narkoba

Kedua, LPSK menemukan tidak semua tahanan berasal dari Kabupaten Langkat, tidak adanya aktivitas rehabilitasi, tempat tinggal yang tidak layak, pembatasan kunjungan. Pembatasan kunjungan oleh keluarga ini berlaku selama tiga hingga enam bulan pertama sejak korban masuk.


Selain itu, para korban tidak diperbolehkan membawa alat komunikasi. LPSK juga menemukan bahwa perlakuan orang dalam kerangkeng sebagai tahanan dengan istilah-istilah yang digunakan sebagaimana di dalam rumah tahanan atau lembaga pemasyarakatan.

“Mereka tinggal dalam kerangkeng yang terkunci,” ujar dia.

Kemudian, dari tinjauan yang dilakukan LPSK, diketahui kegiatan peribadatan para penghuni kerangkeng juga dibatasi. Mereka tidak diperbolehkan melaksanakan ibadah Jumat, ibadah Minggu serta hari-hari besar keagamaan.

Para tahanan dipekerjakan tanpa upah di perusahaan sawit, ada dugaan pungutan, adanya batas waktu penahanan selama 1,5 tahun, ditahan sampai dengan empat tahun.

Selanjutnya diduga adanya pembiaran yang terstruktur dan adanya pernyataan tidak akan menuntut bila penghuni sakit atau meninggal dari pihak keluarga korban.

“LPSK menemukan adanya informasi dugaan korban tewas tidak wajar dan adanya dugaan kerangkeng III,” kata dia. (red/suara.com)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.