Desa “Siluman” Ada Di Tapteng, Benarkah?

Pembangunan Jalan Menuju Desa Mela Dolok

MEDANHEADLINES.COM – Dalam Rapat kerja dengan komisi XI DPR RI beberapa waktu yang lalu, Menteri Keuangan RI Sri Mulyani menyinggung tentang desa fiktif atau desa siluman yang ada di Indonesia.

Dikatakannya, ia menemukan adanya laporan tentang banyaknya desa yang tak berpenduduk, namun sengaja dibentuk agar bisa mendapat kucuran dana desa secara rutin setiap tahunnya

Terkait hal itu, Di Tapanuli Tengah juga ditemukan desa yang memiliki penduduk yang sangat kecil jumlahnya, Salah satunya yakni di Desa Mela Dolok, Kecamatan Tapian Nauli, Sumatera Utara.

Ketua LSM LIPPAN Tapteng menyebut, di Desa Mela Dolok diketahui hanya dihuni lebih dari 12 KK. Desa yang berada di perbukitan inipun disebut-sebut mendapat kucuran dana desa sebesar Rp792 juta.

“Kalau dikalkulasi, Desa Mela Dolok yang hanya berpenduduk sekitar 12 KK, jumlah jiwa yang menghuninya tidak lebih dari 50 orang,” katanya, Rabu (20/11).

Dikatakan Mangudut, menurut Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, jumlah penduduk untuk wilayah Sumatera paling sedikit 4.000 jiwa atau 800 Kepala Keluarga.

“Artinya, Desa Mela Dolok tidak legitimate dan cacat hukum untuk menerima Dana Desa, sebab persyaratan memiliki potensi sumber daya manusia dan sumber daya ekonomi pendukung tidak terpenuhi,” katanya.

“Kalaupun Desa Mela Dolok merupakan sebuah desa warisan, namun Dana Desa yang dikucurkan tidaklah harus sebesar jumlah yang diterima saat ini. Karena Dana Desa yang dialokasikan untuk suatu Desa sangat tergantung dengan jumlah penduduk desa yang bersangkutan,” kata Marudut lagi.

Melihat kondisi itu, kata Marudut data kependudukan di Desa Mela Dolok diduga dapat digelembungkan.

Bahkan, dia menduga dokumen administrasi seperti berita acara musyawarah desa dan kepengurusan lembaga desa Mela Dolok syarat dengan pengkondisian.

“Kita menemukan inkonsistensi data jumlah penduduk dan luas wilayah. Bisa dikatakan desa siluman, ada nama tapi tidak berpenghuni,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Desa Mela Dolok, Hot Nauli Tarihoran, mengungkapkan desa yang dia pimpin memiliki nilai sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Desa itupun dibuka oleh marga Silalahi.

“Masyarakat disini (Mela Dolok) mencari nafkah dari hasil tanaman keras, seperti karet, durian, mangga, dan lainnya. Untuk lahan persawahan tidak ada,” katanya.

Meskipun dengan jumlah penduduk yang sedikit, dia mengaku bahwa desa Mela Dolok selalu memperoleh kucuran Dana Desa setiap tahunnya.

Tahun ini, kata Marudut desa Mela Dolok memperoleh Dana Desa senilai Rp1.1 miliar lebih. Untuk Dana Desa sebesar Rp792 juta lebih, sementara untuk Alokasi Dana Desa sebesar Rp432 juta lebih.

“Dana Desa tahun 2019 dimanfaatkan membangun jalan rabat beton sepanjang 215 meter,” ujarnya.

“Saat ini penduduk saya banyak hijrah ke Mela II atau desa terdekat, namun secara administratif masih tercatat sebagai penduduk Desa Mela Dolok,” tambahnya.

Dengan kucuran dana desa itu, dia pun mengucapkan terimakasih kepada pemerintah. Dia berharap, melalui dana desa pembangunan jalan rabat beton bisa berlanjut sampai tembus ke Desa Mela II.

“Kita berharap beberapa tahun ke depan jalan sepanjang 3 kilometer dari Mela Dolok menuju Mela II bisa tembus,” harapnya.

Terpisah, Plt Kepala Dinas PMD Tapteng, Jonnedy Marbun, saat dikonfirmasi perihal Desa Mela Dolok enggan berkomentar banyak.

Melalui aplikasi WhatsApp, mantan Camat Kolang ini berjanji akan menelusuri kondisi desa yang hanya bisa dilalui kenderaan roda dua itu.

“Akan kita telusuri secepatnya,” katanya.(tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *