Otti Batubara Apresiasi Film Horas Amang, Edukasi Nilai Budaya Batak Dari Ayah Ke Anak

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Film Horas Amang, yang mengangkat tentang budaya suku Batak mendapat respons positif dari Pemerhati Film Sumatera Utara, Otti Batubara. Menurut Otti film ini sangat bagus dan menyentuh.

Saat berbincang dengan medanheadlines.com, Otti Batubara mengatakan, film ini sangat bagus ditonton oleh semua kalangan. Tidak hanya suku batak, namun semua suku. Sebab, di dalam film tersampai pesan nilai-nilai luhur, yang di mana seorang ayah mengedukasi anak-anaknya agar mencapai kesuksesan.

“Film ini sangat menyentuh, di mana perjuangan seorang ayah untuk mengedukasi anak-anaknya mencapai kesuksesan. Ada nilai-nilai pendidikan di dalamnya. Tiga bulan si Amang (Cok Simbara) sudah diprediksi dokter kena penyakit, umurnya cuma tiga bulan. Tapi dengan kegigihan dia berupaya untuk memberikan nilai-nilai pada anaknya bagaimana sebenarnya budaya Batak,”kata Otti Batubara, Senin (15/7/2019).

Film yang mengangkat budaya Batak berjudul “Horas Amang” dibintangi oleh aktor senior Cok Simbara, Tanta Ginting, Dendi Tambunan, Jack Marpaung, Novita Dewi Marpaung hingga Piet Pagau.

Mengedepankan tema keluarga, film ini berkisah tentang Amang (ayah) dari tiga anak yang berusaha sekuat tenaga agar mereka meraih kesuksesan kelak.

Kehidupan di dunia modern yang sibuk membuat anak-anak jadi mengabaikan sang Amang dan melupakan adat istiadat. Amang pun menggunakan cara yang tidak biasa agar anak-anaknya kembali saling mengasihi dan menyanyangi orangtua.

Pesan moral yang akan diangkat dalam film ini, kata produser Jufriaman Saragih, adalah selalu menyayangi orangtua meski sudah dibuai kesuksesan. Meski budaya Batak diangkat di film ini, bukan berarti “Horas Amang” cuma bisa dinikmati oleh suku tertentu.

Karakter yang ditampilkan di “Horas Amang” tidak melulu orang Batak, ada juga Dodi Epen Cupen dari Papua. “Horas Amang” diangkat dari kisah berjudul sama yang dipentaskan oleh Teater Legiun pada 2016.

Naskah filmnya ditulis oleh Ibas Aragi, sutradara dan penulis dalam pementasan tersebut. Mengadaptasi naskah teater menjadi skenario film terasa menantang karena Ibas yang harus memangkas versi 4 jam menjadi versi 1,5 jam.

Film yang disutradarai Irham Acho Bachtiar dan Steve Wantania ini sudah diproduksi di pulau Samosir dan danau Toba di Sumatera Utara dan Jakarta. Kekhasan budaya Batak juga bakal diperlihatkan lewat lagu-lagu termasuk “Anakku Naburju”, musik Gondang dan dialog-dialog berlogat Batak. Rencananya film ini akan tayang Agustus mendatang. (raj)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *