The Kaldera Toba Nomadic Escape, Solusi Sementara Untuk Selamanya Bagi Pariwisata Danau Toba

Menteri Pariwisata RI, Arief Yahya

MEDANHEADLINES.COM – Sambil setengah bercanda, Menteri Pariwisata RI, Arief Yahya menyampaikan “Butuh waktu sampai 25 tahun untuk menjadikan Nusa Dua (Bali) sebagai tempat wisata internasional seperti sekarang. Kalau pakai cara lama, lima tahun pun saya yakin belum tentu terbangun,” ujar Arief saat meluncurkan The Kaldera Toba Nomadic Escape pada Kamis, 4 April 2019 lalu.

Ucapan Arief Yahya sebagai otokritik dan bagai menyindir lambatnya pengembangan pariwisata di Indonesia. Padahal potensi alam yang dimiliki Indonesia menjadi salah satu anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada bumi pertiwi. Dari ujung timur hingga barat, terserak keajaiban dunia yang akan menarik orang dari berbagai lapisan dunia untuk berkunjung.

Saat peluncurannya medio April lalu, Penulis berkesempatan membuktikan solusi yang ditawarkan Arief Yahya untuk Kawasan Strategis Pariwisata Nasional atau KSPN Toba. The Kaldera menjadi satu destinasi baru yang dibangun pemerintah untuk menunjang perkembangan Danau Toba secara keseluruhan.

Berada di Lahan Zona Otorita Pariwisata Danau Toba yang terletak di Sibisa, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba Samosir, The Kaldera menawarkan berbagai fasilitas yang memanjakan pengunjung. Diantaranya Kaldera Ampiteathre berkapasitas 250 orang serta Kaldera Plaza dan Kaldera Stage untuk pertunjukan kepada pengunjung.

Selama dua hari rangkaian acara peluncuran, nuansa hijau dan udara segar khas perbukitan selalu menemani. Sesekali, suara burung bersautan terdengar ikut memanjakan telinga pengunjung yang hadir. Suasana alam yang dibungkus fasilitas modern memberikan kesan berbeda dari berbagai destinasi yang telah ada sebelumnya di Kawasan Danau Toba.

Sensasi berbeda juga akan dirasakan bagi pengunjung yang memutuskan untuk menginap di The Kaldera. Bukan disebuah penginapan konvensional layaknya hotel, namun melalui fasilitas kemah berkonsep glamping yang berdiri dikawasan berjarak 10 menit dari Bandara Sibisa, Ajibata, bandar udara lama yang sedang disulap menjadi jalur transportasi terbaru bagi pengunjung menuju Kawasan Danau Toba.

Pemandangan Danau Toba sebagai pusat wisata di KSPN Toba juga tidak akan tertinggal. Melalui areal Nomadic Cabin ditepi kawasan The Kaldera, sisi lain Danau Toba terpampang nyata diujung mata. Sekaligus dengan indahnya layer Desa Wisata Sigapiton yang persis terletak dilembah The Kaldera, menambah sempurna nikmat penglihatan pengunjung.

Berbagai fasilitas yang telah tersaji merupakan pengaplikasian konsep Nomadic Tourism yang diterapkan Kementrian Pariwisata. Secara harfiah, nomadic tourism berarti dapat berpindah-pindah. Dalam prakteknya, The Kaldera menggunakan konsep Nomadic Tourism sebagai solusi dari pengembangan destinasi pariwisata yang biasanya membutuhkan waktu yang lama.

Terbukti dalam dua bulan persiapan, berbagai amenitas berhasil menyolek The Kaldera. “Langsung dikerjakan setelah proses penyerahan sertifikat hak pengelolaan tahap 1 pada Desember 2018,” ungkap Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Danau Toba atau BPODT, Arie Prasetyo, pada April lalu.

Kehadiran The Kaldera diharapkan menjadi salah satu destinasi yang dapat memancing wisatawan berkunjung ke Kawasan Danau Toba. Khusus jangka panjang, The Kaldera ditargetkan sebagai destinasi luxury nomadic atau pengembara mewah. Musababnya dari tiga kategori pengunjung destinasi nomadic didunia, selain pengunjung glam packer dan digital nomadic, pengunjung kategori luxury packer dapat mendatangkan pendapatan yang sangat besar bagi Negara.

Namun demikian, Arief Yahya mengakui masih banyak yang harus dikerjakan dan membutuhkan waktu panjang untuk mencapai target The Kaldera sebagai luxury nomadic. Karenanya, butuh usaha ekstra keras dan kerjasama dari berbagai pihak untuk mewujudkan The Kaldera sebagai pilihan utama para wisatawan dunia.

Tentunya bagi masyarakat sekitar, The Kaldera diharapkan memberikan dampak positif dari semakin berkembangnya Kawasan Danau Toba dimasa mendatang dan selamanya. Layaknya seperti yang disampaikan Arief Yahya, “Ini merupakan bagian dari amenitas untuk memajukan Danau Toba. Saya yakini ini akan menjadi solusi sementara untuk selamanya,” harap Arief.

Penulis : IIL Askar Mondza

Please follow and like us:
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *