Dialektika Antara Runtuhnya Moralitas Manusia dan Bencana Alam.

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Manusia adalah makhluk Tuhan yang di ciptakan dengan esensi kebaikan. Plato mengatakan  dalam filsafatnya tentang dunia ide (dunia sebelum materi) bahwa sebelum dilahirkan manusia sudah memiliki pengetahuan tentang kebaikan, bahkan manusia memiliki pengetahuan tentang segalanya, tetapi pengetahuan tersebut sirna pada ketika manusia lahirkan kedunia, kemudian manusia lupa akan pengetahuannya tersebut.

Pandangan Plato itulah yang kemudian mempengaruhi paradigma berpikir para filosof moralis setelahnya, Emanuel Kant dalam pandangan Deontologi etic-nya bahwa yang terpenting bagi manusia adalah Moral-nya, ketika moralnya baik maka maka baiklah perbuatan manusia itu, kebaikan manusia dari segi moral akan mempengaruhi cara pandanganya tentang alam, sehingga alam akan dijaga agar sinergi antara keharmonisan dan keseimbangan dunia, dan bencana pun tidak akan terjadi.

Para filosof moralis percaya bahwa semua manusia pada dasarnya baik, dan suatu tindakan kejahatan berarti nonekstensialis. Yang maksudnya adalah orang melakukan suatu yang dianggap jahat karena menurut pandangan penjahat sendiri, perbuatan yang dimaksud itu dilakukan demi kebaikan. Contohnya seseorang mencuri, maka menurut pencuri tersebut perbuatannya itu baik, karena jika tidak mencuri dia akan kelaparan begitupun dengan keluarganya, maka mencuri adalah konsekuensi dari suatu keadaan, begirupun pemakai narkotika mengasumsikan bahwa dengan memakai itu mereka akan bahagia.

Ketidak tahuanlah yang menyebabkan orang menjadi jahat, orang korupsi, memakai narkoba, begal karena mereka tidak tahu bahwa perbuatan tersebut adalah suatu kebodohan. Orang pinter tidak akan mungkin melakukan kejahatan, itulah ajaran Sokrates pada murid-nya.

Ajaran moral adalah suatu upaya memperbaiki perikelakuan manusia, bukan saja dari segi pengetahuan tentang sains dan eksakta, tetapi juga moral manuaia. Pengetahuan sains tidak akan bermanfaat jika disalahgunakan. Oleh sebabnya lah ajaran moral selalu di gaungkan.

 

Bencana Moral

Apakah Moral manusia Indonesia baik ? Tentu banyak orang akan menjawab tidak. Moralitas orang indonesia jika di ukur dengan kalkulasi kejahatan misalnya, seberapa banyak orang yang melakukan kejahatan, seperti korupsi, narkoba, mencuri, maling begal, perkosaan dan lain sebagainya, lalu seberapa banyak orang yang menempuh jalur pengadilan untuk menyelesaikan perkaranya. Maka akan ditemukan jawaban bahwa moralitas orang-orang Indonesia sedang diterpa bencana.

Bencana moral inilah yang mempengaruhi Kerusakan alam, adanya eksploitasi sumber daya alam, membuang sampahpenebangan hutan tanpa dilakukan reboisasi, penambangan batubara, gas bumi, emas dan lainnya, tanpa melihat aspek ekosistem sekitarnya, tentu saja dapat merusak struktur tata kelola alam, ketika ekosistem rusak maka akan terjadi bencana.

ketidak harmonisan moralitas manusia dengan alam tentusaja akan mengalami dampak buruk bagi alam saat ini. Oleh sebab itu penulis  berasumsi bahwa bencana alam seperti banjir, tanah lonsong, gempa bumi hingga tsunami terjadi berkaitan dengan kausalitas atas perlakuan manusia terhadap alam.

Alam itu berlaku hukum mekanis.

Sama seperti kendaraan yang kita gunakan, semisal itu sepeda motor atau mobil jika terjadi suatu kerusakan pada salah satu rangkaian sistem tentunya akan menyebabkan ketidak nyamanan dalam berkendara. Misalkan saja salah satu baud pada mesin sepeda motor kita longgar maka akan terjadi kerusakan, bukan hanya pada bagian tersebut, tetapi bisa juga menyebabkan motor tersebut tidak bisa dikendarai.

Begitupun alam kita ini, para penganut paham materialisme mekanik menyamakan seluruh alam makrokosmis dengan mesin. Suatu kerusakan alam akan mempengaruhi secara dan atau sebagian alam. Seperti Theory butterfly efect bahwa kepak sayap kupu-kupu di belahan dunia satu akan berdampak pada belahan dunia lainnya.

Maka seperti halnya mesin kendaraan tadi alam pun harus dijaga akar tetap seimbang, bagian hutan yang rusak harus segera di perbaiki, stop membabat lahan dengan cara tidak efektif. Hentikan eksplorasi kelapa sawit yang akan merusak ekosistem tanah.

Perbaiki Moral Niscaya Alam kan Damai.

Apakah dengan banyaknya peraturan yang bermacam-macam itu cukup untuk memperbaiki degradasi moral kita?

Aneh bukan, bahwa semakin banyak peraturan, semakin banyak pula usaha manusia untuk melanggar peraturan itu. Penulis meyakini bahwa Peraturan itu tidak perlu ada jika manusia sudah baik, namun nyata dengan banyaknya peraturan pun kondisi sebagian orang Indonesia tetap begitu-begitu saja.

Sejarah Reformasi menentang kedzaliman Soeharto yang dianggap korup, tapi pada saat ini korupsi seperti bagian yang tak terpisahkan dari hidup kita, hampir setiap hari ada saja pejabat yang terjerat korupsi.

Berarti jawabannya bukan merombak sistem yang ada tetapi membenahi moralitas manusianya, dengan cara yang bagaimana? Itu menjadi pertanyaan yang penulis sendiri sulit untuk menjawabnya.

Mungkin yang paling nyatanya adalah dengan kembali memperkuat dogma agama, bukan yang fundamentalis tetapi agama yang cinta damai, bahwa Islam adalah agama yang  rahmatan Lil Al-Amin,  bahwa cinta kasih tuhan adalah modal penting manusia bersinergi satu sama lain, begitupun dengan alam.

Misi Setiap agama adalah menebar benih cinta, cinta terhadap perikelakuan kepada sesama manusia dan merawat kondisi alam agar tetap Lestasi. Karena agama adalah suatu instrumen tuhan untuk memperbaiki kelakuan manusia yang menyalah.

Pendidikan dan Upaya kristalisasi akal sehat

Pendidikan adalah upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan hanya di hitung dari jumlah seberapa banyaknya orang yang masuk di perguruan tinggi, dan seberapa calon CPNS yang lulus seleksi, tetapi seberapa berpengaruhnya kah dunia pendidikan terhadap perbaikan alam.

Atau justru anekdot saat ini yang sering  penulis dengar bahwa dunia pendidikan terutama  kampus adalah bagian daripada suatu upaya mengekploitasi sumberdaya alam kita, mahasiswa yang lulus masuk pabrik-pabrik, tambang-tambang minyak, gas, emas, elaborasi antara Kampus dan korporasi inilah yang semakin memperburuk kerusakan alam.

Maka sudah Seharusnya dunia pendidikan mengajarkan Akal Budi, bukan saja kepintaran akal tetapi kebikan budi pekerti,hal inilah yang menurut Sokrates  yang menuntun manusia untuk selalu berbuat kebaikan, baik pada sesama manusia maupun kepada alam.

 

Penulis : Rahmat Muhammad

 

Please follow and like us:
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *