Praktisi Intelijen : Reuni 212 Tembus 10 Juta Orang, Dihadiri Tidak Hanya Umat Muslim

MEDANHEADLINES.COM, Jakarta – Praktisi Intelijen Kolonel (Purn) Fauka Noor Farid mengatakan, kegiatan reuni 212 yang telah berlangsung, mencatatkan sejarah. Sebab, dihadiri kurang lebih 10 juta jiwa yang datang dari segala penjuru nusantara.

 

Disampaikannya, massa aksi dari reuni 212 tidak hanya dari umat muslim saja. Sebab, ada umat non muslim yang ikut dalam aksi 212 tersebut.

 

“Kegiatan reuni 212 yang dihadiri oleh kurang lebih 10 juta jiwa ini, bukan hanya umat Islam, ada juga non muslim dan semua etnis. Meskipun mayoritas adalah Muslim,”katanya saat berbincang dengan medanheadlines.com.

 

Hal ini, menurut Fauka, menepis semua tuduhan yang dilancarkan oleh beberapa orang bahkan pejabat pemerintahan, yang mengatakakan bahwa kegiatan tersebut akan disusupi oleh orang-orang radikal dan rawan akan kekacauan.

 

“Ini jelas, kenyataannya kegiatan tersebut sangat damai dan penuh dengan kekeluargaan layaknya kegiatan 212 sebelumnya. Karena sesungguhnya umat Islam itu sangat cinta damai. Nah, itu menunjukan Islam rahmatan lil alamin itu yang terpatri di dalam jiwa seluruh umat Islam yang hadir di acara tersebut,”ungkapnya.

 

Justru, lanjut Fauka, yang membuat masyarakat bertanya-tanya adalah pengamanan dengan jumlah yang sangat besar, dan ini adalah sejarah dalam pengerahan pasukan untuk pengamanan umat Islam yang bisa menimbulkan salah tafsir.

 

“Kalau dikatakan untuk gelar pam Natal atau Tahun Baru, kenapa harus dilaksanakan hari yang sama di mana acara reuni 212 sudah diajukan jauh-jauh hari sebelumnya? acara yang tadinya hanya akan menghadirkan 4 juta umat ternyata dihadiri 10 juta umat. Ini menunjukkan begitu antusiasnya masyarakat untuk hadir di acara tersebut meskipun sebelumnya banyak sekali hambatan,”terangnya.

 

 

Sebelumnya, banyak hambatan yang terjadi, mulai dari imbauan untum tidak hadir, bus yang dilarang beroprasional, sampai intimidasi teror, agar jangan menghadiri acara reuni 212 ditemukan sebelum hari H.

 

“Yang patut diapresiasi, hambatan itu tidak. melemahkan atau menyurutkan umat untuk tetap datang. Nah, dari situ menunjukkan untuk memperjuangkan kebenaran dan bela agama umat tidak bisa diintimidasi, apalagi diteror,”katanya.

 

Bahkan, sambung Fauka, umat tertantang menunjukkan aksi damai, sehingga menepis tuduhan radikal. Aksi itu pun memperjelas umat Islam berhasil memperjelas bahwa Islam tidak radikal, dan bisa menjaga kedamaian dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika. (raj)

Please follow and like us:
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *