Hindari Cara Beragama Dengan Kebohongan

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Dalam kitab Min Taujihatil Islam (Tuntunan Islam) yang dituliskan Syaikh Mahmoud Syaltout mengatakan, ada suatu macam-macam cara beragama yang bohong masuk dalam barisan kaum muslimin. Ia menuliskan ada dua cara beragama yang bohong. Pertama, beragama secara simbolik dan, Kedua adalah beragama secara formalitas.

Beragama secara simbolik menurut Mahmoud Syaltout maksudnya, ada segelongan manusia telah puas dalam beragama hanya dengan mengatakan saya telah menganut suatu agama dan melaksanakan rukunnya yang terutama, yaitu mengucapkan dua kalimah syahadat. Kemudian, kita melihat golongan manusia tersebut jauh daripada sifat-sifat keutamaan, amal-amal saleh, hukum-hukum yang benar sebagaimana disampaikan oleh orang-orang yang diberi kepercayaan wahyu oleh Allah Swt.

Padahal, iman kepada hal-hal tersebut merupakan unsur penting bagi beragama menurut Allah Swt. Kita akan melihat juga mereka melepaskan kekangan dalam segala hal, untuk dirinya, anggota badannya dan akal fikirannya. Kebenaran bagi mereka adalah apa yang dianggapnya benar. Keutamaan baginya adalah yang dianggapnya utama. Dalam hal ini menurut Syaltout, mereka tidak mempunyai petunjuk kecuali hawa nafsu dan syahwat mereka. Dengan hawa nafsu dan syahwat itulah mereka bersifat dan atas perintahnya mereka menurut.

Daripada beragama semacam yang dikatakan di atas, lebih bai mereka terang-terangan kafir atau ingkar kepada Tuhan, kata Syaltout. Jika mereka tidak terang-terangan maka akan banyak orang yang lemah akalnya akan tertipu dan mengikuti cara golongan manusia yang beragama dengan cara simbolik.

Beragama dengan cara simbolik ini telah tersebar dilingkungan orang-orang yang menganggap dirinya mempunyai kebudayaan tinggi. Mereka merendahkan semua kewajiban agama dan peraturan kemasyarakatan yang ditunjukkan oleh Allah Swt. untuk dijadikan dasar beragama serta dasar pembentukan keluarga dan masyarakat. Di antara mereka juga ada yang berdebat tentang Tuhan tanda dilandasi ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab atau wahyu yang memberi penerangan. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, yang artinya:

Dan di anatara manusia ada yang berbantahan tentang Allah tanpa ilmu, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang memberi penerangan.” (Qs. Al-Hajj: 8)

Tentang ciri-ciri orang yang beragama secara simbolik sudah disebutkan Allah Swt. di dalam Al-Qur’an, yang artinya:

Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Marilah (beriman), agar Rasulullah memohonkan ampun bagimu.’ Mereka membuang buka dan engkau lihat mereka berpaling dengan menyombongkan diri.” (Qs. Al-Munafiqun: 5)

Dari Firman Allah Swt. di atas dapat jelas kita lihat sifat atau ciri yang beragama tapi hanya dengan simbolik. Mereka tidak benar-benar beriman kepada Tuhan, mereka itu angkuh dan sombong. Terlihat ada minimal tiga ciri di sana yang mengatakan ia beragama tapi hanya sekedar simbolik.

Dalam firman lain, Allah Swt. mengatakan, yang artinya, “Dan apabila dikatakan kepadanya: ‘Bertakwalah kepada Allah.’Bangkitlah kesombongannya untuk berbuat dosa. Maka pantaslah baginya neraka Jahanam, dan sungguh (Jahanam itu) tempat tinggal yang terburuk.” (Qs. Al-Baqarah: 206)

Dan lagi-lagi di sebutkan bahwa kesombongan dan tidak mau beriman atau bertakwa kepada Allah Swt. adalah merupakan ciri dari golongan yang beragama secara simbolik.

Sedangkan golongan yang kedua, beragama secara formalitas menurut Syaltout, maksudnya adalah golongan berama Islam tapi menganggap beragama adalah gerakan shalat, keletihan dalam berpuasa, bacaan tasbih, lemah suara dan kecondongan leher, melahirkan penyesalan dan menangis terhadap nasib agama dan juga akhlak serta banyak mondar-mandir ke Baitullah Al Haram, walaupun untuk itu ia menebalkan muka terhadap orang-orang yang memberikan pembiayaan pulang perginya.

Dengan bentuk-bentuk seperti itu, yang tidak mempunyai kebenaran sama sekali, mereka menentukan cara beragama dalam praktek. Adapun beragama secara ilmiah, mereka tentukan dengan membaca pendapat-pendapat para nenek moyang mereka.

Aqidah bagi mereka adalah ketetapan-ketetapan yang telah ditentukan oleh Imam-imam yang mereka percayai atau ketetapan-ketetapan yang telah ditentukan oleh nenek moyang mereka, bukan ketetapan-ketetapan yang benar menurut Allah Swt. lewat wahyu yang telah diturunkan-Nya. Maka terjadilah perpecahan di antara mereka.

Akibat-akibat buruk dari cara-cara beragama yang kita sebutkan di atas akan sangat membayakan. Orang-orang dahulu dengan agama simboliknya telah membuka pintu untuk membebaskan diri dari hidayah dan hukum Al-Qur’an. Gelombang ingkar kepada Aqidah agama mulai mengenai banyak pemuda umat. Dan hari ini di negara kita dapat kita lihat sendiri betapa mulai meningkatnya pemuda-pemuda agnostik yang menjurus pada ateisme.

Mereka lebih mengutamakan hukum-hukum, pendapat dan kepercayaan yang dari nenek moyang mereka daripada hukum0hukum dan aqidah yang diterangkan oleh Allah Swt. Mereka mengatakan, “Inilah peraturan yang sesuai dengan zaman dan cocok dengan kebudayaan, serta memberi sentuhan kepada perikemanusiaan yang halus.” Sehingga muncullah tiap-tiap daerah Islam ada bentuk beragama tersendiri dan tertutup.

Dengan demikian timbullah perpecahan dalam barisan di antara sesama. Padahal satu kitab, pengikut agama yang datang dari Tuhan, dan satu Rasul, tapi perpecahan merembes pada urusan hidup. Pada tiap-tiap daerah kita ketergantungan kepada orang yang mau menelan atau mengalahkan kita semua, orang yang berusaha untuk menurunkan bendera kita semua dan menghina kita unutk kepentinganya.

Sebenarnya, beragama yang benar dasarnya menurut Allah adalah satu saja, yaitu berpegang teguh kepada tali-Nya yang kuat. Tali-Nya yang kuat adalah Kitab-Nya yang menghubungkan hati dengan satu aqidah dan dengan aqidah itu berjalan di jalan yang satu kearah tujuan yang satu, yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat.

Untuk itu kita harus menjauh atau jangan terpengaruh oleh mereka yang beragama secara simbolik dan formalitas. Hendaknya kita, kaum muslimin membersihkan dari macam-macam cara beragama yang bohong itu dan hendaknya kembali kepada Kitab Allah walau itu secara perlahan-lahan. Dengan Kitab Allah, kita bisa mengetahui unsur beragama yang betul dan dengan dasar itu dapat membina kehidupan perseorangan dan masyarakat.

Dengan demikian, maka kalangan kita akan nampak kepribadian yang beriman, kuat dan berwibawa serta selalu mengajak kepada kebaikan, amar ma’ruf nahi munkar dan menegakkan keadilan di antara manusia.

 

Penulis: Ibnu Arsib

Kader HMI Cabang Medan

Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *