Saatnya Pemuda Berperan, Bukan Baperan !!!

Ilustrasi Pemuda (ist)

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Belum lepas rasanya kita dari peringatan Sumpah Pemuda ke-90 tahun, yang puncaknya jatuh pada setiap tanggal 28 Oktober. Pertemuan pemuda (Kongres Pemuda) dari berbagai daerah yang ada di Nusantara (sekarang Indonesia) 90 puluh tanun yang lalu (27-28 Oktober 1928) menghasilkan suatu pusaka persatuan berbagai suku dan agama yang bersatu menjadi satu bangsa, satu bahasa dan satu tanah air, yaitu Indonesia.

Pemuda-pemuda yang mengikuti Kongres Pemuda sembilan puluh tahun yang lalu menunjukkan peran mereka untuk mempererat hubungan antar pulau yang ada di Indonesia ini. Refresentatif pemuda dari berbagai daerah berkumpul pada masa itu untuk menyatakan sikap mereka dalam persatuan dan mempunyai cita-cita yang sama.

Hasil dari pertemuan pemuda pada masa itu menjadi kekuatan hingga sampai kemerdekaan Indonesia. Pemuda-pemuda setelah ’28 mengikuti jejak mereka untuk merebut kemerdekaan dari tangan para penjajah. Kecintaan kepada bangsa dan tanah air yang tertanam dalam diri mereka diimplementasikan lewat gerakan-gerakan. Peranan mereka saat itu memberikan hasil seperti yang kita nikmati sebagai seorang pemuda saat ini.

Sekarang di antara mereka telah tiada, kalau pun masih ada hanya tinggal nama dan kalaupun ada itu adalah pemuda-pemuda yang meneruskan perjuangan pemuda angkatan ’28 untuk terus mempertahankan negeri ini. Negara yang saat ini lagi panas-panasnya kerena dinamika politik sekarang maupun yang akan datang.

Ada kutipan kata-kata yang terkenal sekali dari Ir. Soekarno, “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kugoncangkan dunia.” Kata-kata ini mempunyai makna yang sangat dalam melihat peran seorang pemuda itu. Seorang pemuda itu bukan hanya dilihat dari kebugaran fisiknya dan kekuatan ototnya saja. Akan tetapi, potensi yang dimiliki seorang pemuda itu sangat luar biasa untuk melakukan suatu perubahan.

Pemuda-pemuda kita dahulu telah menujukkan perannyayang kita ketahui lewat sejarah. Jika kita membaca litaratur tentang sejarah pemuda, kita akan merasa iri dengan kondisi pemuda saat ini. Pemuda-pemuda yang berperan terdahulu itu menunjukkan jati dirinya bahwa dia adalah seorang pemuda yang mempunyai potensi yang sangat besar untuk hal-hal yang positif.

Masa muda memang adalah masa proses mencari jati diri dan mengembangkan potensi diri. Tapi, pengertian itu tidaklah dimaksudkan secara pasif. Selain seorang pemuda sedang melakukan proses penempahan diri, ia juga memberikan peran positif pada bangsa dan negara ini. Baik itu peran skala kecil, maupun dalam skala besar. Hal ini telah ditunjukkan oleh pemuda-pemuda terdahulu.

Di zaman canggihnya tekhnologi saat ini, pemuda kita mulai kehilangan peran. Ini menurut apa yang penulis lihat. Memang tidak semua pemuda, akan tetapi saat ini mayoritas pemuda kita terjebak dalam hal-hal yang negatif. Penulis tidak akan membeberkannya satu per satu betapa buruknya sekarang pemuda kita. Betapa gampangnya pemuda-pemuda kita terpecah belah oleh kepentingan sesuatu.

Tapi, penulis ingin membicarakan bahwa saat ini pemuda-pemuda kita mayoritas saat ini banyak terjebak oleh penyakit. Penyakit itu penulis istilahkan dengan baperan. Baperan ini suatu kependekatan dari Bawa Perasaan. Pemuda-pemuda kita saat ini tidak lagi berperan, tapi sudah baperan.

Maksud penulis dari pemuda yang baperan ini adalah betapa mudahnya pemuda kita terprovokasi perasaannya oleh sesuatu yang belum ia ketahui sebenarnya. Isu-isu hoax begitu mudah masuk ke dalam diri pemuda sehingga menimbulkan gerakan reaksinoner. Pemuda-pemuda kita juga sangat gampang marah ketika sesuatu menyinggung perasaannya. Mediasi dan diolog seolah-olah tidak berlaku lagi.

Dalam dunia romantisme pemuda kita juga terjadi seperti itu. Pemuda-pemuda kita saat ini lebih banyak dimabuk asmara. Kecanggihan tehknologi bukan dimanfaatkan untuk berkarya, akan tetapi dimanfaatkan untuk kepuasan asmara. Jika ia tidak mendapatkannya, ia pun mudah putus asa.

Pemuda-pemuda kita mulai hilang kekritisannya seperti yang pernah ditunjukkan oleh pemuda-pemuda terdahulu. Unsur perasaannya lebih besar daripada unsur pikirannya. Sehingga terjadi kemunduran berpikir, dan lebih cepat tersinggung dan bahkan mudah berputus asa dalam memperjuangkan sesuatu.Idealisme sebagai harta termewah seorang pemuda seperti yang dikatakan Tan Malaka, runtuh begitu saja. Betapa banyakknya hari ini pemuda-pemuda yang idealismenya ternodai karena ingin sesuatu harta, tahta dan bahkan asmara.

Sebagai seorang pemuda, peran kita sangat dibutuhkan untuk mengisi negara yang telah disatukan dari Sabang hingga Merauke. Seorang pemuda kita terus merajut persatuan ketika terjadi adanya usaha-usaha pemecahan dari kelompok yang tidak bertanggungjawab. Mejahit persatuan ketika terkoyak.

Peranan pemuda selain meningkatkan kualitas dirinya, secara aktif juga memberikan manfaat kepada orang banyak. Pemuda itu tidak boleh bergelut sampai menjadi penyakit akut dalam dunia perasaan, dengan kata lain mabuk asmara sehingga ia lupa apa perannya sebagai seorang pemuda. Kekritisan seorang pemuda harus dibangun dan intelektualitas pemuda harus terus ditingkatkan karena kelak ia akan menjadi seorang pemipin, baik itu pemimpin untuk dirinya dan untuk orang banyak. Secara jujur dan berharap kepada kita semua kaum muda, kita harus berperan, dan tidak mudah baperan.

 

Penulis: Ibnu Arsib

Kader HMI Cabang Medan

Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *