Adakah Kesempatan Kedua?

Foto : IST

MEDANHEADLINES.COM, – Duduk dalam mobil satu harian membuat badanku pegal-pegal. Inginku keluar dari mobil untuk sekadar meregangkan badan. Namun, hal itu tak mungkin kulakukan saat ini. Sebab, ada misi yang lebih penting dari itu.

Ya, aku sedang difokuskan dengan target. Target pribadiku. Ini harus kucapai, motivasiku cukup besar untuk mencapai target ini.

Beberapa hari ini aku telah mengikutinya, si Bapak pejabat yang sombong! Sangat sombong. Melihatnya saja, sudah muak hatiku! Apalagi ketika mengingat tatapannya yang menganggap remeh diriku. Sungguh memuakkan! Aku sakit hati!

Pertama kali berjumpa dengan si Bapak pejabat itu sudah membuatku kesal. Padahal aku menjumpainya mau menyampaikan informasi yang kudengar tentang Beliau.

Baca Juga : Aku, Sepatu dan Jodoh

Huh! Sungguh kesal hatiku, responsnya mengejutkan. Dia tidak memerdulikan informasiku itu. Malah, aku ditertawainya, dengan raut wajah yang menjengkelkan.

Sembari tertawa, ia menyatakan bahwa sudah banyak yang berusaha memberikan informasi itu dengan berbagai cara. Ada dengan teror SMS, ada dengan ancaman, ada juga dengan surat kaleng, dan banyak cara lainnya.

Dia bilang, bahwa Dia menghargaiku karena datang silahturahmi dengan baik, tapi tetap saja tidak kudapatkan apa yang kuinginkan dari si Bapak pejabat itu.

Tentu saja Dia tahu apa yang kuinginkan, tetap saja Dia tidak peduli. Itulah yang membuat Aku semakin ingin mencari kelemahannya agar Dia tau “Siapa Aku Sebenarnya”.

“Terlalu anggap remeh! Kau lihat saja nanti, kau akan tahu siapa Aku,” gumamku dalam hati.

Bisa-bisanya permintaanku tidak diindahkan. Itu akan kuingat, dan akan kubalas tentunya.

Makanya, sudah beberapa hari ini kubuntuti si Bapak pejabat itu. Pasti ada rahasia yang disembunyikannya. Sehingga, Aku bisa menggunakannya untuk tujuanku.

Hari ini sudah hari kedua, Aku menyamar dengan menyewa mobil rental agar Dia tidak mengenali. Terkadang Aku tersenyum sendiri merasa sebagai aktor yang sedang akting sebagai detektif, untuk menyelidiki orang.

Baca Juga : Cinta Tak Pernah Putus, Selama Masih Terendus, Pusss!

Pagi ini, kulihat si Bapak pejabat yang berkumis dan berbadan bongsor itu olahraga di depan rumahnya, dengan santai Dia menghirup udara pagi, kesal hatiku melihatnya, sungguh!.

Enak saja Dia olahraga, sedangkan Aku berada di mobil pengab ini dari kemarin.

Aku punya keyakinan, bahwa setiap orang pasti punya titik kelemahan. Karena setiap orang punya kehidupan publik, kehidupan pribadi dan kehidupan rahasia. Kehidupan rahasia itu ingin kutemukan, dan harus kutemukan!.

Di mobil ini, Aku sudah menyediakan berbagai keperluan mulai dari snack, minuman dan lainnya.

Namun, aku sempat kelabakan, ketika Aku ingin buang air dalam pemantauan ini, terpaksa aku pergi ke semak-semak untuk membuangnya. Jorok? Ya! Namun, mau tidak mau harus kulakukan. Walau tak pernah terbayangkan diriku, untuk buang air di semak-semak seperti ini.

——–

Sambil menunggu aku teringatku masa laluku, ketika aku di penjara, karena aku ketauan melakukan pencurian di rumah orang kaya di kampungku.

Saat itu kami bertiga, kedua sahabatku ikut mendampingi. Aku terpaksa melakukannya karena saat itu adik perempuanku yang paling bungsu masuk rumah sakit.

Kondisinya sedang gawat, memang dari lahir adik bungsuku ini paling lemah kondisinya. Kata ibu, akibat kemiskinan, ibuku kekurangan gizi sehingga adikku lahir prematur, membuat jantungnya belum secara sempurna terbentuk. Sungguh menetes air mata ini, jika mengingat kondisi adikku.

Malam itu tak akan kulupakan, Kami sengaja menunggu dini hari untuk masuk ke rumah orang kaya itu, siangnya kami sudah melihat bahwa mereka semua pergi liburan. Jadi rumah itu kosong dan aman untuk dicuri. Itu yang terlintas di benak kami.

Mula-mula aku disuruh sahabatku membongkar pintu dapur yang merupakan titik terlemah di rumah itu. Tak memakai jeruji, hanya pintu yang harus dibongkar kuncinya. Dengan tangan gemetar dan keringat dingin aku linggis pintu itu dan kupaksa pintu itu terbuka.

Setelah kami dorong pintu itu, tiba-tiba ada alram berbunyi kencang. Betapa kagetnya kami. Sungguh kami sangat panik. Keringat seketika membasahi tubuh. Ketakutan sangat tinggi, jantungku pun berdebar kencang.

Langsung kuberlari, ternyata di dekat itu, lagi ada kelompok satpam yang sedang berkeliling. Aku dan kedua sahabatku berpencar lari. Kocar-kacir, ya sangking ketakutan.

Satpam-satpam tersebut sibuk mengejar sambil berteriak “MALING” sekuat kuatnya dan berulang ulang. Akhirnya hanya aku yang tertangkap satpam itu, dan kedua sahabatku meninggalkanku.

Tubuhku lemas, wajahku pucat. Keringat semakin bercucuran. Ketakutanku sangat tinggi.

“Ampuni aku Tuhan,” seketika aku bermophon pada pencipta.

Akupun sempat digebuki oleh penduduk sekitar sehingga babak belur. Untung saja aku diselamatkan oleh satpam yang menangkapku dengan membawaku ke kantor polisi.

Sejak itu Aku berjanji pada diri sendiri tidak akan pernah percaya pada siapapun. Ketika kita kesulitan semuanya meninggalkan, ada istilah bayanganpun akan meninggalkan dalam keadaan gelap.

——–

Sudahlah. Itu masa laluku penyebab aku di penjara beberapa tahun lalu. Sekarang ketika keluar penjara, aku mencari kerja “halal” kesana kemari tidak kudapatkan.

Pelajaran lain yang kudapat dari sesama teman di penjara bahwa ada jalan mudah mendapatkan uang dengan memeras para pejabat. Hal itu mudah dan sedikit risiko digebuki, malahan mereka yang memeras sering merasa jadi pahlawan karena jika tidak terpenuhi, maka akan membuat surat kaleng ke aparat hukum tentang apapun itu.

Tersentak aku dari lamunan karena terlalu lama menunggu di mobil. Beberapa waktu kemudian, kulihat si Bapak akhirnya bersiap-siap mau pergi, dengan mesra Dia mencium kening istrinya dan mendapatkan salam sayang dari anak-anaknya.

“Huh! Sok mesra,” itu dalam hatiku.

Mereka bergerak dengan mobil yang berbeda, si Bapak bergerak ke kantor, sedangkan anaknya di antar supirnya ke sekolah.

“Enaknya jadi pejabat yang punya banyak mobil,” gumamku dalam hati. Sedangkan aku, jangankan mobil untuk beli obat adikku aja tak punya uang.

Kubuntuti si Bapak pejabat itu pergi, ternyata Dia berbelok bukan ke kantornya.

Wah.. wah.. bentar lagi Aku akan mengetahui rahasia si Bapak pikirku senang. Setelah beberapa lama perjalanan, si Bapak berhenti di satu rumah.

Baca Juga : Sosok Dalam Kaca

Kutunggu dengan perasaan ingin tahu, rumah siapakah itu? Ternyata yang keluar seorang ibu tua sambil memeluknya, dan ibu itu adalah ibunya.

Hal itu kuketahui dari data yang sudah kuselidiki tentang Bapak itu.

Dengan kesal Aku mengumpat. Sia-sia lagi Aku mengikutinya. Beberapa hari ini kubuntuti Si Bapak, ternyata si Bapak pejabat itu tak ada macam-macam yang melanggar Hukum ataupun norma. Kehidupannya seperti kehidupan normal lainnya.

Sambil memantau, aku teringat kembali ajaran teman penjaraku bahwa pejabat itu biasanya akan melakukan “segala cara” untuk mencapai jabatan tinggi yang bisa membuat mereka kaya. Entahlah.. ini baru pertama kali aku mencoba membututi seorang pejabat.

Dengan tekad kuat, Aku menguatkan niat mencari kelemahan si Bapak pejabat itu. Aku yakin akan kutemukan sesuatu karena mana ada orang yang bersih dengan jabatan seperti Beliau.

“Pasti akan kutemukan sesuatu hal kelemahan, entah itu wanita, entah itu berjudi, narkoba, bisa jadi sesuatu transaksi penyogokan ataupun yang lainnya,”ujarku dalam hati.

Kembali kulihat Si Bapak bergerak setelah disalamnya ibunya. Ia masuk mobil, dihidupkannya mobil itu dan berjalan ke arah jalan raya.

Aku terus mengikuti, kuikuti mobil tersebut dengan tetap menjaga jarak darinya agar tidak ketahuan. Tiba-tiba si Bapak berhenti di pinggir jalan, dan Akupun berhenti dengan tetap menjaga jarak.

Tanpa kusadari ada yang mengetuk jendelaku, dan ternyata si Bapak sudah ada di samping mobilku. Dengan berdebar dan pucat pasi, Aku berusaha tetap tenang.

“Dek, apa kabarnya? Sudah beberapa hari ini kulihat Adik berada di sekitarku. Pastinya Adik belum sarapan ya? Yuk sarapan sama yaa..” ujarnya dengan santai mengajakku.

“Oh My God!! Aku ketahuan,” hatiku berkata.

Dengan lemas dan tergagap karena ketahuan mengikuti, Aku mengangguk lemas. Lalu Aku mengikutinya masuk ke rumah makan dan diajaknya duduk bersama.

“Dek, apa yang bisa kubantu? Gak perlulah Adek mengikuti Saya. Pastinya Kita bisa cari jalan keluar bersama-sama” ucapannya dengan ramah.

Akhirnya Aku mengakui sejujur-jujurnya apa maksud dan tujuanku mengikutinya. Aku yakin pastinya Si Bapak ini akan marah jika Dia tau bahwa Aku bermaksud jahat dengan Dia. Dengan gemetar aku membayangkan akan masuk penjara lagi didepan mata.

Setelah Aku cerita panjang lebar, kuterdiam menatapnya dan menunggu reaksi marahnya. Tapi si Bapak malahan dengan santai menyuruh Aku sarapan.

Baca Juga : Segalanya Untuk Cinta

Sampai tak tertelan lagi makanan yang ada di depanku, padahal Aku memang belum sarapan dan sangat kelaparan.

“Dek.. mungkin Saya punya solusi dengan masalah Adek. Kita cerita asal mula Saya juga ya. Saya ini anak angkat dari ibu yang Adek lihat tadi, dulu Saya anak jalanan yang bersentuhan dengan berbagai hal kejahatan. Tapi Saya tidak pernah menyangka hidup Saya seperti sekarang, Ibu Saya itu sangat sabar dan penuh kasih sayang, sehingga dapat mengetuk hati Saya agar mau menjadi orang lebih baik.” ujarnya bercerita dengan mata berkaca-kaca.

Aku hanya dapat tertunduk dan merasa bersalah dengan perbuatanku. Padahal Aku sudah berniat jahat, tapi Si Bapak tetap berbuat baik denganku.

“Aku minta maaf Pak. Terus terang niatku jahat dengan Bapak sekeluarga. Aku ingin menemukan kelemahan Bapak, sehingga Aku bisa memeras Bapak “ terus terang kuakui semuanya.

Si Bapak terdiam melihatku tajam. Lalu Dia bekata

“Dek. Apakah Adek mau berubah menjadi lebih baik? Apakah masih ada niat di hatimu untuk bekerja yang halal? Karena Aku mau menawarkan Adek kerja, kebetulan Aku mencari Satpam untuk jaga malam di rumah. Apakah Adek bersedia bekerja menjaga keluargaku?”.

Aku tertegun tak percaya memandangnya. Aku yang telah narapidis yang mempunyai niat jahat padanya, tapi Dia tetap memberikan kesempatan kepadaku untuk menjadi lebih baik.

“Pak.. apa Bapak yakin? Saya sudah niat jahat kepada Bapak lho. Bapak menawarkan hal yang menyangkut keselamatan keluarga Bapak?” ujarku mengulangi apa yang kupikirkan.

Si Bapak menangguk dengan mantap, dengan tegas Dia menjawab.

“Setiap orang pastinya butuh kesempatan kedua, dulu Saya mendapatkan kesempatan itu. Sekarang Saya menawarkan kepada Adik.” katanya.

Akhirnya, aku menjawab bahwa aku bersedia menjaga keluarganya,  dengan menjadi Satpam di rumahnya. Dengan bersalaman kami sepakat untuk memulai hal baru.

Setelah beberapa tahun kemudian, Aku tetap menjaga amanah yang telah diberikan. Aku menunjukkan bisa berubah sehingga Aku juga dikuliahkan si Bapak di Universitas, dan dengan rasa bangga aku sekarang menjadi salah satu ajudan kepercayaan si Bapak itu , yang sekarang telah menjadi Wali Kota dipilih masyarakat, karena sikap jujur dan menjaga norma yang dijunjung tinggi.

Semua orang punya masa lalu, yang terpenting adalah bagaimana kita menjalani masa sekarang untuk masa depan.

Penulis : Feby Milanie

Please follow and like us:
0

10 thoughts on “Adakah Kesempatan Kedua?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *