Renungan Untuk Sumpah Pemuda Yang Telah Terkoyak

MEDANHEADLINES, Medan – Hari ini kembali kita memperingati Sumpah Pemuda yang telah diikrarkan 90 tahun yang silam (28/10/28-28/10/18). Sumpah yang dilakukan oleh seluruh pemuda yang mewakili suku-suku bangsa yang berada dalam teritorial Nusantara. Sumpah untuk berbangsa, bahasa, dan tanah air yang satu yaitu Indonesia. Meski Penjajahan Belanda masih kuat mencengkeram Nusantara kala itu, namun semangat untuk bersatu telah muncul menggelegar mendobrak sekat-sekat kesukuan, keagamaan dan kedaerahan. Tidak ada peluang lain mencampakkan penjajah dari bumi Nusantara selain bersatu padu dan bersepakat bahwa harus lahir bangsa baru yaitu bangsa Indonesia.

Sumpah Yang Terkoyak

Selain sudah kehilangan makna hakikinya Sumpah Pemuda juga sudah tak mampu teraplikasikan lagi dalam kehidupan pemuda-pemudi Indonesia. Kini Sumpah Pemuda hanya sebatas ritual peringatan yang diperingati setiap tahunnya. Kini Sumpah Pemuda hanya sebatas jualannya media, pejabat, pemerintah, sekolah-sekolah untuk membuat acara-acara sekedar untuk menunjukkan bahwa mereka ingat terhadap peristiwa Sumpah Pemuda dan masih menjunjung tinggi nilai kebangsaan. Selebihnya, banyak orang sudah samasekali lupa dan tak memperdulikan Sumpah Pemuda itu sendiri. Sumpah Pemuda hanyalah peristiwa masa lalu, semnatara masa kini jauh lebih penting dari masa lalu.

Sejak isi Sumpah Pemuda diwujudkan dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 1945, ironisnya sejak itu pula bangsa Indonesia yang baru merdeka terus menerus mendapat masalah yang tak kunjung selesai hingga sekarang. Sejak lahir bangsa Indonesia kerap menjadi incaran bangsa-bangsa besar untuk kembali ‘dijajah’ dengan berbagai cara. Tidak ada yang dilihat oleh bangsa-bangsa besar di muka bumi pada Nusantara selain kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Kekayaan Nusantara lah yang menjadi magnet bagi bangsa-bangsa asing untuk ‘menikmati’ Nusantara. Nusantara yang kaya dengan kekayaan alam yang berlimpah adalah ibarat surga yang tercampak kebumi, sebagai pemberian Tuhan Yang Maha Kasih yang luar biasa.

Namun sayang, dengan kekayaan alam yang berlimpah bangsa Nusantara sendiri tidak pernah merasa bersyukur dengan nikmat yang telah diberikan Tuhan. Dengan kekayaan alam yang luar biasa tersebut bangsa Nusantara tak pernah menjaga dan merawat serta mempertahankan  alam Nusantara yang kaya. Jangankan merawat dan mempertahankannya kita justru turut serta merusak dan mengeksploitasinya. Jangankan mempertahankan keaslian dan kekayaan alamnya kita justru dengan sukarela maupun terpaksa turut serta menjualnya kepada bangsa-bangsa asing. Sudah tak terkira betapa banyaknya kekayaan alam Nusantara yang sudah beralih kepada pihak asing akibat perbuatan tangan kita sendiri. Sudah tak terkiran betapa banyak hutan, tambang, laut, terumbu karang, bakau, gunung, bukit-bukit, tumbuhan dan satwa yang kita telah rusak hanya untuk mengambil keuntungan pribadi, tanpa pernah merasa bersalah sedikitpun.

Lantas, dengan situasi dan kondisi kerusakan tersebut, apakah bangsa, bahasa dan tanah air kita tetap Indonesia? Tentu saja ya. Namun Bung Karno mengatakan secara substantif kita sesungguhnya telah rubuh. Lihat bagaimana kita saat ini berjalan sebagai suatu bangsa tanpa ideologi. Saksikan dimana kita saat ini berjalan sebagai bangsa tanpa cita-cita sesuai dengan sumpah yang telah kita ikrarkan 90 tahun silam.

A nation without faith can not stand teriak Bung Karno mengingatkan kita semua. Tidak ada bangsa yang dapat berdiri tanpa memiliki ideologi. Bangsa yang berjalan dengan ideologi asing adalah bangsa budak bagi bangsa-bangsa asing. Tanpa ideologi kita hanyalah bangsa kuli meski di negeri kita sendiri. Tidak ada kondisi yang paling menyakitkan adalah dimana kita tidak punya kedaulatan dan kepribadian di rumah kita sendiri. Tidak ada kondisi yang paling miris selain melihat bangsa kita menjadi sapi perahan bagi bangsa-bangsa lain. Tidak hanya sapi diperah diambil susunya, kekayaan alam kita pun telah diperah untuk diambil hasilnya. Bahkan, kita selaku bangsa pun telah diperah keringatnya untuk digunakan bagi mendukung kejayaan dan kemakmuran bangsa-bangsa lain.

Bangsa Gagal

Inti sari sumpah pemuda adalah sebagai janji dari semua pemuda Indonesia lintas suku, untuk berdaulat baik sebagai suatu bangsa, suatu negara maupun bahasa. Pemuda Indonesia menolak penjajahan (dominasi) dalam bentuk apapun. Pemuda Indonesia menolak pengahisapan manusia atas manusia lainnya. Manusia yang buruk adalah manusia yang lupa akan sumpah dan janjinya. Manusia yang selalu mengucapkan sumpah tapi seolah hilang ingatan terhadap sumpahnya maka ia disebut orang mabuk atau orang munafik. Muchtar Lubis mengatakan bahwa penyakit utama manusia Indonesia adalah kemunafikan. Ya, kata Muchtar Lubis kebanyakan dari kita adalah manusia-manusia munafik. Manusia munafik itulah yang telah mengisi dan menghiasi seluruh pelosok Nusantara hari ini. Munafik inilah penyakit yang telah berurat berakar dalam mental bangsa kita.

Dalam kehidupan kita sehari-hari bisa kita saksikan bagaimana seluruh sektor kehidupan kita susungguhnya sudah terikat pada sumpah ataupun perjanjian yang telah di ikrarkan. Lihat bagaimana kita melakukan sumpah atau perjanjian sebagai siswa (janji siswa), mahasiswa (janji Mahasiswa), PNS (sumpah pegawai), pegawai swasta, anggota DPR (sumpah pejabat), MPR, Hakim, Jaksa, Polisi, TNI, maupun sebagai suami-istri (sumpah suami). Benar kata Muchtar Lubis, pada faktanya banyak diantara kita yang justru mendustai perjanjian tersebut. Kita yang berjanji kita pula yang mengkhianatinya. Perjanjian hanyalah “manis di bibir” saja kata pepatah.

Jadi sangatlah wajar jika bangsa kita terus-menerus dalam kedukaan yang tak pernah berhenti sebab tidak lain banyak dihuni manusia munafik. Manusia munafik adalah mereka yang hanya menyebut-nyebut taat kepada Tuhan Yang Maha Esa dalam ikrarnya namun perilakunya jauh dari ajaran Tuhan. Bangsa munafik jelas akan menjadi ‘jajahan’ bagi bangsa-bangsa lainnnya Bangsa munafik akan dipenuhi oleh orang-orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri dan tidak memperdulikan nasib bangsanya. Orang munafik hidup hanya digerakkan oleh kepentingan pribadinya saja dan terbelenggu oleh kecintaan mereka terhadap dunia. Orang munafik akan saling membunuh satu dengan yang lain dan saling curiga antara satu dengan yang lain. Orang munafik tentu saja orang yang telah memutus hubungannya kepada Tuhan.

Tidak berlebihan jika kita saat ini terancam sebagai bangsa yang gagal. Lihat bagaimana kondisi ideologi, politik, ekonomi, hukum, pendidikan, sosial dan budaya (ipolekhukdiksosbud) saat ini. Betapa paham liberal (Kebebasan) yang bertentangan dengan paham Pancasila (Ketuhanan/Kemanusiaan) telah meringsek dalam seluruh sendiri kehidupan berbangsa dan bernegara.

Teritegrasimya ekonomi politik seluruh bangsa-bangsa di dunia memastikan bahwa sebagai bangsa kita sangat bergantung pada ‘belas kasihan’ dan kondisi bangsa-bangsa besar di dunia. Tidak hanya ancaman luar negeri,

ancaman kegagalan kita secara ekonomi dan politik juga berasal dari dalam diri kita sendiri. Kita gagal sebagai bangsa karena kita gagal membangun mental (ideologi) bangsa. Kembali kata Bung Karno kita hidup karena adanya ideologi bukan yang lain. Kita kuat bukan karena adanya tentara yang kuat dan makanan yang tersedia, melainkan karena keyakinan kita yang luhur dan mulia selaku hamba Tuhan. Pembangunan mental-spritual tentu saja menjadi faktor paling penting bukan pembangunan fisik.

Penutup

Memperingati Sumpah Pemuda tentu saja tidak salah. Namun menjadikannya sebatas kegiatan ritual belaka tanpa menjadikannya sebagai ‘ruh’ yang menghidupkan diri kita sama saja bohong. Semua pekerjaan yang sifatnya simbolik tentu saja akan menghasilkan pekerjaan yang sia-sia. Jangan sekali-kali mewarisi abunya, tapi warisilah apinya!

(Penulis ; H.DADANG DARMAWAN)

Pengamat sosial dan politik Sumatera utara

Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *