“Segalanya Untuk Cinta”

MEDANHEADLINES.COM – Semuanya harus segera aku siapkan. Terburu-buru, aku susun makanan kesukaan suamiku ke dalam rantang yang berwarna biru, warna kesukaannya.

Sedari pagi, aku menyibukkan diri memasak makanan favoritnya. Sambal udang pakai petai, tumis toge yang pedas, dan juga puding coklat yang ditaburi fla.

Terbayang senyum manisnya, ketika melihat makanan ini. Dia akan makan masakan ini dengan lahap. Kuyakin itu.

Senangnya hatiku setiap melihat senyum di wajahnya yang manis. Senyum yang selalu membuatku nyaman. Getaran cinta selalu hadir setiap melihat senyuman itu.

Walaupun kami sudah menikah 20 tahun, cinta itu tak pernah surut. Bahkan, rasa cintaku semakin besar setiap hari. Ya, semakin besar. Tumbuh, dan terus tumbuh seakan bunga yang mekar dan tak kenal layu.

 

Baca Juga : Aku, Sepatu dan Jodoh

Setelah makanan kususun rapi, kupanggil anak sulungku.

“Bang, itu Mama sudah siapkan rantang. Tolong Abang masukkan ke mobil ya. Mama mau siap-siap dandan jumpa Papa” ujarku dengan semangat.

Sambil bersenandung aku langsung memilih baju dengan warna kesukaan suamiku, memang kebanyakan bajuku berwarna biru.

Setelah kucocokpadankan warna baju dengan jilbab, maka kuoleskan lipstik merah di bibirku. Sembari tersenyum, aku menatap cermin. Aku masih cantik, seperti sedia kala, saat pertama kali bertemu dengan suamiku. Ya, aku cantik saat berdandan. Aku hanya berdandan untuk dia yang telah memiliki jiwa ragaku.

Akupun pergi bersama anakku untuk menemui suamiku. Sepanjang perjalanan anakku diam. Hal itu membuat aku heran. Sebab, anak sulungku ini, biasanya sangat periang.

“Bang, ada apa? Kok diam saja? Apa ada masalah?” ujarku.

“Ma.. aku khawatir keadaan Papa. Semakin hari kesehatannya semakin menurun, padahal dokter tidak tahu penyebab sakitnya.” jawabnya.

Akupun terdiam mendengar ucapannya, karena hatiku pun berkata, memang kondisi suamiku semakin parah setiap harinya.

Dengan nada kupaksa ceria “Mama yakin Papa pasti sembuh itu. Doakan saja.”ucapku dengan senyuman.

 

Baca Juga : Bayang-Bayang Lifa Lazuardi

Anakku pun mengangguk dan tetap fokus menyetir.

Kami tiba di tujuan, rumah sakit terkemuka di kota ini. Langsung bergegas aku turun dari mobil dan melangkah ke dalam mobil.

“Bang.. Abang cari parkir dulu ya.. Mama turun duluan, ini udah jam makan siang Papa,” ujarku dengan terus melangkah.

Begitu sampai di kamar rumah sakit, langsung aku jumpai suamiku sambil kucium tangannya.

“Papa gimana kondisi? Masih demam ya?” sambil kupegang dahi kepalanya. Memang dahi itu agak panas dan penuh peluh keringat. Ku ambil tisu dan kulap wajahnya.

Perlahan kucium kening suamiku, dan berujar dalam hati, “Aku cinta kau sayangku, belahan jiwaku,”

 

Suamiku pun tersadar, dengan membuka mata.

“Ma.. aku haus, tolong minum,”katanya.

Mendengar ucapannya, dengan suara yang sedikit parau, aku bergegas mengambil segelas air bersama sedotan, yang terletak di meja. Sedotan memang telah kusediakan, agar suamiku mudah minum.

Begitu pun, minuman masih tertumpah dari mulutnya. Langsung ku lap pakai tisu agar tidak tumpah banyak.

 

Baca Juga : Bayang Pikiran Si Gimbal

Sambil kususun rantang makanan yang kubawa dari rumah, suamiku memanggil agar aku mendekat ke samping tempat tidurnya.

“Mama, terima kasih telah merawat Papa ya. Maafkan tingkah laku Papa selama ini.”

Dengan mata berkaca-kaca aku menjawab.

“Pa.. ini semuanya sudah kewajiban Mama, karena Papa itu belahan jiwa Mama. Kita sudah berjanji cinta selamanya, sampai mati memisahkan kita”

Kukecup tangannya perlahan. Mata suamiku terpejam lagi karena pengaruh obat. Tak tega aku membangunkannya untuk makan siang ini.

Tatapan cinta, termenung kumelihat wajah manisnya. Sekeliling kamar, tercium bau obat.

Suamiku masih terbaring dengan infus di tangan. Kuselimuti tubuhnya yang kekar, kusandarkan kepalaku tepat di samping wajahnya.

Kupandangi, sembari mengelus pipinya dengan cinta. Kupejamkan mata dan terdengar nafasnya perlahan.

Tiba-tiba, badan suamiku tersentak jegang, seakan ada hentakan keras. Dengan panik ku berlari memanggil suster.

“Suster..!! Suster..!!! Tolong bantu. Ada apa dengan suamiku ini?”

Dari kejauhan, Suster berlari ke dalam kamar. Dengan pucat pasi suster menekan bel di kamar, kondisi suamiku telah berhenti bernafas.

Suster itu pun berlari memanggil dokter IGD agar memberikan bantuan kepada suamiku. Suamiku langsung dibawa bersama ranjangnya ke bagian gawat darurat.

“Ya Tuhan..” ujarku dipojok ruangan sambil menangis.

Selang beberapa jam kemudian, aku dan anakku dipanggil ke ruang dokter. Berjalan perlahan, sambil bergetar lututku. Anakku tampak sedih. Ia menggenggam erat tanganku.

Sampai di ruang dokter, aku dipersilahkan duduk. Kupandang dokter itu, sosok muda dan ganteng, dengan memakai kaca mata, menunjukkan bahwa ia sering membaca buku. Kuberharap anak muda ini dapat menolong suamiku.

“Bu.. Kami pihak rumah sakit sudah melakukan segalanya, tapi Bapak sudah tidak tertolong lagi. Kami turut berdukacita atas meninggalnya Bapak.” ujar dokter itu.

Bagaikan tersambar petir di siang bolong mendengar berita itu, tiba-tiba dunia menjadi gelap gulita. Aku pingsan.

Tak tahu berapa lama aku tidak sadarkan diri. Saat aku tersadar, perlahan kubuka mata, kumerintih kepalaku pusing sekali. Lalu kumelihat sekeliling, ternyata aku di tempat tidur rumah sakit. Melihat aku tersadar, anakku datang memegang tanganku.

“Mama.. yang sabar ya.” sembari diperasnya tanganku perlahan. Mata anakku pun tampak merah, usai menangis.

Melihatnya hatiku pun seperti semakin teriris, baru teringat bahwa yang berduka bukan hanya aku. Dengan menguatkan jiwa maka kuangguk kepala. Kukuatkan senyum agar anakku tidak khawatir dengan kondisiku.

>>>>—0—>>>>

Langkahku gontai menuju pemakaman. Hati seakan hancur dengan kepergiannya. Sedih, sangat sedih. Air mata menetes tanpa lagi meronta.

Berdiri lunglai aku di depan kuburan suamiku. Seperti tidak percaya, bahwa Dia telah menghadap Tuhan. Aku duduk di samping nisan suamiku, teringat satu per satu kenangan masa lalu.

Teringat, perjumpaan pertama dengannya, cinta pertama dan cinta terakhirku.

Sosok yang menghadirkan rasa yang berkesan, rasa penasaran, dan rasa cinta. Ya, first impression presents love. Seakan membuat jantungku seperti terhenti sekejab.

 

Baca Juga : Ada Kasih Di Gubuk Reyot Pemulung Tua

Suamiku, merupakan Abang dari teman baikku. Pertama bertemu, dia tampak keren dan cuek.

Lelaki tampan, santai dan pendiam. Hal itu membuat aku semakin penasaran.

Kusadari, aku merupakan wanita yang pemalu. Aku hanya mampu curi-curi pandang. Dan seketika, kami saling bertatapan tapi tidak berbicara.

Selang beberapa hari kemudian, ternyata temanku bilang, bahwa Abangnya titip salam. Hatiku bergetar, berdebar, seakan cinta tumbuh dengan bunga yang merekah.

Namun, aku menjawab salam itu dengan sok cuek. Dengan harapan, tidak sekadar titip salam.

“Kalau cuma titip salam itu gak paten, datanglah ke rumahku baru itu pemberani,” ujarku, dan disambut dengan senyum temanku.

Ternyata, oh ternyata. Seperti pucuk dicinta, ulampun tiba. Lelaki tampan itu, betul-betul berani datang ke rumahku. Kami berbicara, tersenyum, bahkan tertawa lepas.

Malamnya, langsung hatiku gundah gelisah tidak bisa tidur sambil senangnya. Ia seakan menghipnotis diriku. Sungguh menarik hatiku. Setiap berbicara, selalu bisa meyakinkan aku, setiap berujar membuatku percaya atas cintanya kepadaku.

Tapi seperti biasanya, setiap kisah cinta ada rintangan. Orang tuaku tidak setuju aku bersamanya. Mereka menganggap dia bukan sosok yang baik untukku. Sehingga berusaha memisahkan Kami. Aku dipindahkan sekolah keluar kota.

Sambil menangis, aku memohon kepada orang tuaku agar tidak pergi dari kota ini. Aku sampai bersujud memegang kaki Bapak.

“Pak.. mohon agar Aku jangan disuruh pergi” .

Emakpun menangis sambil memohon kepada Bapak agar aku tetap di sisinya. Tapi Bapakku sudah ambil keputusan dan Aku tahu itu tidak bisa diganggu gugat.

Dengan bergetar kuhubungi teman baikku itu memberi tahu bahwa aku akan pergi. Karena aku sudah dikarantina orang tuaku, tak bisa menghubungi Dia sosok yang kucinta.

Dini hari, aku terbangun karena ada yang mengetuk kecil di jendelaku. Antara sadar dan tak sadar aku membuka jendela kamarku. Ternyata sosok Dia ada di depan jendela. Dia mengajakku lari bersama, Dia mengajak agar Kami mau menikah dan hidup bersama sampai ajal memisahkan.

Baca Juga : Quo Vadis HMI Di Sumut

Tanpa berpikir lagi langsung kusetujui usulnya. Lalu kususun beberapa baju seadanya dan lompat melewati jendela, menuju masa depan bersamanya.

Kami menuju stasiun bus, naik ke bus yang paling pertama keluar kota.

Ku pegang erat tangannya. Ku lihat Dia dengan keyakinan.

“Inilah jodohku, inilah belahan jiwaku sampai ajal akan memisahkan kami,”gumamku.

Sesampainya di kota seberang, ternyata Dia telah mempersiapkan segalanya bersama teman-temannya. Bajuku seadanya, sebenarnya tidak pantas untuk menjadi gaun nikah. Tapi, ini tekadku dan ini jalan pilihanku.

Tuan kadi telah menunggu kami, dengan ucapkan bismillah dan ijab kabul, akhirnya aku menjadi istrinya. Pejam mataku mengingat flash back kisah cinta kami yang penuh lika liku. Sambil kuelus perlahan nisan suamiku ini dengan penuh kasih sayang.

>>>>—-000—>>>>

Hari-hari bahagia kulalui bersamanya sebagai suami istri. Tak terpikirkan, bahwa suamiku akan selingkuh. Tapi kenyataan berbeda dengan harapan. Suamiku menikah lagi setelah 20 tahun menjalani pernikahan denganku.

Betapa terpukulnya jiwa ragaku mendengar berita itu, antara percaya dan tak percaya mempertanyakan dengan suamiku tentang berita itu. Dia menyangkal dan memungkiri berita itu, sampai akhirnya kusuruh bersumpah di atas Al Quran, air matanya pun berurai dan mengakui telah menikah lagi.

Histeria dan histeris aku menangis meraung-raung. Tak percaya apa yang telah dilakukan suamiku. Setelah apa yang kami lalui bersama, jatuh bangun bersama, mempertahankan Cinta ini. Sampai Aku berani mengecewakan orang tuaku demi hidup bersamanya.

Aku terpukul. Ya sangat terpukul. Aku terdiam tergolek lemas berhari-hari, tidak mau keluar kamar ataupun makan. Sampai akhirnya aku jatuh sakit.

Di rumah sakit aku, merenung dan merenung. Apa yang kulakukan salah, sehingga ia selingkuh? Apa sudah tak ada cinta di hatinya? Apa artinya perjuangan kami selama ini? Berjuta pertanyaan ada di kepalaku.

 

Baca Juga : Sosok Dalam Kaca

Suamiku datang menjengukku di rumah sakit sambil memohon maaf. Ia menerangkan bahwa aku tetap cinta sejatinya, tapi dia juga jatuh cinta kepada wanita lain.

Apa yang telah dilakukannya tidak dosa, karena dia tidak berzina. Dia menikah secara Islam dan penuh kesadaran tidak ingin meninggalkan aku juga tetap bertanggung jawab hidup bersama-sama.

Malahan dia merayuku, bahwa ini salah satu pintu surga dengan menerima poligami ini. Kupejamkan mata dengan suara serak kubertanya.

“Apakah masih ada Cinta untukku?”

Dia segera menjawab, bahwa aku selalu dicintai sampai ajal memisahkan sesuai sumpah nikah kami.

Akupun pulang ke rumah kembali bersamanya. Tetap hidup bersama, walau sekarang punya madu. Tekadku bulat, aku akan melayani suamiku sampai akhir hayat.

Malahan, sekarang aku lebih mesra melayaninya, apa yang dulu tak pernah kulakukan jadi kubuat. Apa yang dulu aku gengsikan jadi kulakukan.

Sambil menetes airmata ku elus kembali nisan suamiku ini.

“Papa.. telah kupenuhi janji kita tetap bersama, walau apapun terjadi. Tapi Mama juga meminta maaf, bahwa Mama setiap hari memasukkan racun di makanan Papa. Ya, sedikit demi sedikit, sehingga akhirnya terwujud sumpah nikah kita. Bahwa, hanya aku yang dicintai sampai ajal memisahkan kita. Love You Papa,”

Penulis : Feby Milanie

Please follow and like us:
0

39 thoughts on ““Segalanya Untuk Cinta”

  1. Alur dan plot terlalu singkat walau utk sebuah cerpen. Nama tokoh kota dan tempat zupaya dibuat walau fiktif. Bahasa dan kata supaya diperkaya dengan kata kias yg kaya seni tidak terlalu lugas sbg karya sastra. Makna dan ide cerita sangat bagus dan original membuat pembaca penasaran dan ingin tahu akan pesan dari setiap alur cerita. Imaginasi berkembang pada pesan akan cerita kebaikan seorang istri yg sangat mencintai suami. Walau hrs diakhiri pesan menggapai cinta abadi dengan cara meracuni cinta dan org yg divinta. Disitulah originalitasnya. Ide cerita masih sbg inti mk perlu di perkaya denga daya imaginasi penulis. Selamat dan terus berkarya agar cerpen ini bisa naik cetak. Dan diterima banyak pembaca yg possesive dgn org yg dicinta. Tks

  2. saran agar flashback di ceritakan pada waktu perjalanan ke rumah sakit supaya lebih memberi tekanan dari makna “cinta” namun bagian paragraf “racun” sebaiknya di hilangkan (kekuatan pesan cerita jadi hilang) , pembaca bisa jadi bingung, ini cerita cinta sejati, cinta dan kesetiaan, atau cinta yang berlebihan ( over protektif negatif)
    12 1 0

  3. So sweet…
    wanita berhati singa
    jangan sembarang dengan wanita
    trus…anak sulungnya gimana dunk
    agar tidak pincang alurnya

  4. Keren nih ceritanya.awal ngebaca rasanya terharu banget.ampir aja nangis.romantis gitu.eh..tiba diujungnya ngagetin.diluar dugaan.ternyata yang namanya cinta juga bisa bawa petaka y…keren…jempol deh buat pengarangnya.ditunggu karya2 berikutnya yg lebih keren lagi y…salam sukses…

  5. Bah……endingnyaaa
    Ekspresi wajah dihadapan nisan ini pasti dingin..penuh kepuasan pembalasan dendam….keren…

  6. Base on true, sebagian dr kisah menggambarkan hal yg nyata ada..tp lebih menggelitik adalah imajinasi penyaji, lebih menunjukan keberadan kekosongan asa pribadi, fantasi akan suatu kisah menggambarkan nya secara nyata..end dr kisah sadis

  7. Awal ngebaca terharu banget.romantis.kayaknya cinta banget.ampe mo nangis.tapi begitu tiba di ending gak nyangka bener.ternyata cinta juga bisa bawa petaka.bravo buat pengarang berhasil mengecoh pembaca dengan ending yang ekstrim.ditunggu karya2 berikutnya.salam sukses

  8. Bila wanita menyatakan mencintai pasangannya, dia harus menerima suaminya apa adanya, baik atau buruk. Saat wanita memutuskan berpisah dari suami yang poligami, sebenarnya wanita itu tidak mencintai suaminya, tapi mencintai dirinya.Secara keseluruhan, ide cerita tersampaikan.

  9. Aku suka ceritanya.. Cerita cinta yg biasa romantis berakhir tiba2 dgn sadis.. Tak terbayangkan.. Bravo!!

  10. Cinta memang indah, membuat kita terkadang terlena. Tetapi setiap orang selalu memiliki pemikiran dan sifat berbeda. Ternyata racun adalah yang diambil jadi solusinya… AA…

  11. Ini kisah cinta yg dimulai dgn melawan orang tua dan berakhir tragis…ada pesan bahwa org tua jgn dilawan kualat jadinya…. dan juga pesan dari penulis jgn macam macam sama penulis kl mau poligami hehe…

  12. Klo menurut aku endingnya gak pas kak feb..biarpun racun dimasukkan sedikit demi sedikit di makanan pasti terdeteksi..kan alat medis da makin canggih..jd kesannya memaksa di akhir cerita..jadi bukan segalanya untuk cinta tp pelampiasan cinta..pesan moralnya jd negatif..pembenaran perbuatan walaupun hal itu dilarang baik oleh undang-undang maupun agama…trus ada beberapa kalimat yang kata-katanya kurang pas penempatannya…seperti jegang…janganlah jegang..lebih baik kelojotan atau seperti tiba-tiba tubuh suamiku bagaikan tersengat listrik yang cukup kuat,bergetar dengan hebatnya sampai tersentak-sentak di pembaringannya lalu diam..aku kaget dengan segera berteriak histeris….tp good job lah kak feb..maaf agak panjang commentnya..

  13. bravo buat pengarang berhasil mengecoh pembaca dengan ending yang ekstrim.ditunggu karya2 berikutnya.salam sukses

  14. Saya suka gaya bertuturnya. Isinya membuat kita bertanya-tanya: “Masih adakah wanita yang rela dimadu tanpa mengharapkan apa pun zaman sekarang?”. Dan endingnya menjawab tuntas pertanyaan itu.

  15. Cerita yang menarik, jadi serius membacanya sampai akhir, hanya sebaiknya menurut saya ada tambahan pesan moral yang menyatakan bahwa yg dilakukan itu adalah salah dan tidak pantas seharusnya melakukan itu walau dengan alasan apapun, bisa ditambahkan adanya penyesalan dan bertaubat, itu akan membuat makna yang lebih baik bagi tulisan tersebut dan bisa jadi memberikan manfaat untuk yang membaca..Terus berkarya dan salam sukses mulia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *