Sentuhan Kekuatan Suara Anak Muda

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Cerita Sa’di dalam Gulistan (Jalaluddin Rakhmat, 2005: xiii-xiv), ada seorang raja di Yunani menderita penyakit yang sangat mengerikan. Sejumlah tabib dipanggil untuk mengobati raja.

Para tabib itu berpendapat bahwa satu-satunya obat untuk menyembuhkan penyakitnya raja adalah dengan raja memakan empedu seseorang. Seseorang yang dimaksud tersebut adalah orang yang memenuhi syarat-syarat tertentu seperti yang dijelaskan oleh para tabib.

Atas saran dan pendapat para tabib tersebut, raja  memerintahkan sesorang yang dimaksud para tabib tadi harus dicari ke seluruh penjuru negeri. Maka, ditemukanlah seorang anak muda dari keluarga petani yang memenuhi syarat-syarat seperti yang dikatakan oleh para tabib.

Untuk mendapatkan anak petani tersebut, maka raja memberikan hadiah yang berlimpah kepada kedua orangtua anak muda tersebut. Anak itu pun diserahkan pada raja untuk dijadikan korban dan orangtua anak muda tersebut merasa bahagia karena telah mendapatkan harta yang berlimpah dari raja.

Jaksa Agung di negeri itu pun mengetuk palu yang berarti memberi keputusan bahwa boleh menumpahkan darah rakyat untuk menyelamatkan nyawa Sang Raja. Algojo pun sia-siap melaksanakan tugasnya untuk memotong kepala anak muda tersebut.

Pada saat pengeksekusian akan dimulai, tiba-tiba saja anak muda atau pemuda tersebut mendongkak ke langit sambil tersenyum. Melihat pemuda itu tersenyum yang hendak menemui ajalnya, Sang Raja pun bertanya pada pemuda itu.

“Dalam keadaan seperti ini pun Kamu masih bisa tersenyum?”

“Ayah dan Ibu seharusnya menjaga dan merawat anak-anaknya. Jaksa Agung semestinya menjadi tempat menyampaikan pengaduan. Dan Raja itu menjadi sandaran untuk menegakkan keadilan.” Jawab anak muda itu.

“Tetapi kini Ayah dan Ibuku mengantarkanku pada kematian karena pertimbangan dunia. Sedangkan Jaksa Agung telah menjatuhkan vonisnya mengobarkanku. Dan Sang Raja mencari keselamatan dengan membunuhku. Selain Tuhan, tidak ada yang dapat melindungiku.” Lanjutnya lagi.

Sang Raja terdiam mendengarkan kata-kata anak muda tersebut. Sedangkan Algojo tinggal menunggu perintah Sang Raja. Jika Sang Raja mengatakan; laksanakan, maka anak muda menemui ajalnya.

“Kemanakah aku harus lari dari cengkraman tanganmu?” Anak muda itu balik bertanya. “Akan kucari keadilan yang bertentangan dengan kekuasaanmu.” Anak muda itu berkata lagi.

Hati Sang Raja tersentuh oleh kata-kata pemuda itu. Sang Raja pun menangis dan berkata, “Lebih baik aku binasa daripada menumpahkan darah orang yang tidak bersalah.”

Sang Raja pun mencium kepala anak muda itu, kemudian memeluknya. Sang Raja membebaskannya kemudian lagi memberikan hadiah yang banyak pada anak muda itu. Pada saat itu juga, penyakit Sang Raja sembuh.

Pesan Moral Dari Cerita Tersebut

Dari cerita di atas, kita dapat mengambil pesan moralnya. Jalaluddin Rakhmat mengatakan bahwa, pesan moral cerita di atas sungguh sederhana yaitu menyembuhkan penyakit raja yang mengerikan dengan sentuhan suara anak muda yang masih bersih. Ia berpendapat lagi, jika raja ingin selamat, maka dengarkanlah suara anak muda, jangan membunuhnya.

Menurut Saya, pesan moril dalam cerita di atas tersebut sangat baik sekali. Seorang raja atau seseorang yang mempunyai kekuasaan dalam negara tidak boleh menumbalkan para anak-anak demi kepentingannya dan kepentingan golongannya.

Pesan moril terhadap kita anak-anak muda saat ini dari cerita di atas bahwa suara anak muda itu memiliki kekuatan. Karena di dalamnya terdapat idealisme yang bersih. Anak-anak muda yang memiliki suara-suara yang bersih itu apabila ia bersih juga. Ia seorang pemuda yang idealismenya tidak tergadaikan oleh godaan dunia.

Kekuatan suara-suara anak (bukan dalam artian berbicara dengan suara keras) dapat memberikan suatu perubahan yang sangat besar. Kekuatan suara-suara itu kerena disampaikan oleh anak-anak muda yang bersih dan idealis. Di Indonesia, dapat kita lihat bagaimana suara-suara pemuda pada 28 Oktober 1928, yang kita kenal dengan Sumpah Pemuda.

Pada waktu itu, pemuda-pemuda berkumpul dari berbagai daerah di Pulau Jawa. Mereka mendeklarisakan nama Tanah Air ini, Bangsa ini dan Bahasa kita. Demikianlah kekuatan pemuda pada waktu itu sampai saat ini menjadi penyemangat para pemuda Indonesia.

Kekuatan suara-suara anak muda atau pemuda tidak hanya dapat kita lihat dalam sejarah negara kita. Di berbagai negara lain, kekuatan suara-suara anak muda dapat kita temukan. Untuk itu, anak-anak muda harus terus dijaga perkembangannya. Dipupuk keintelektualannya dan dijaga agar tetap bersih. Jauh dari hal-hal yang menjerumuskannya dan jauh dari hal-hal yang merusaknya.

 

Penulis: Ibnu Arsib

Instruktur HMI Cabang Medan

Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *