Pemulung Tua Dan Gubuk Reotnya

MEDANHEADLINES.COM, Sibolga – Pagi Jumat (5/10), langit terlihat cerah mengawali langkah dua awak media menyusuri Gang sempit di Jalan Kuali, Kelurahan Aek Muara Pinang, Kecamatan Sibolga Selatan yang hanya bisa dilalui pengendara roda dua.

Awak medanheadlines.com ditemani seorang rekan serta seorang warga pun harus sabar menyusuri gang sempit itu. Jalur satu-satunya menuju rumah Oloan Manalu (74) yang merupakan salah satu warga miskin di Kota Sibolga.

Sekitar lima menit dalam perjalanan, awak media pun tiba dirumah itu. Rasa senang dan sedih pun bercampur disaat melihat kondisi rumah milik Oloan yang reyot itu.

“Silahkan masuk,” ucapnya ramah menyambut kedatangan awak media di rumahnya.

Di dalam rumah yang berukuran 6×6, Oloan beserta istri dan kelima cucunya sudah delapan belas tahun tinggal dirumah yang berlantai tanah itu. Terlihat dinding rumahnya pun mulai rapuh akibat termakan usia.

Dengan mengenakan celana panjang yang digulung sebatas lutut, Oloan terlihat duduk menyeruput sebatang rokok di tangannya.

Cahaya sinar matahari pun terlihat menembus kedalam rumahnya. Ya, atap rumah Oloan sudah banyak yang bocor. Bila hujan turun, mereka pun tak pernah lelap untuk tidur.

“Kalau hujan deras, kami nggak bisa tidur lelap lagi.  Air banyak masuk ke rumah. Sengnya sudah banyak yang bocor,” ungkapnya.

Istrinya, Sitinurbaya Aritonang (65) kondisinya sekarang sakit-sakitan. Sudah sebulan Sitinurbaya berbaring lemas di atas tikar berlatar lantai tanah. Pun demikian, Oloan masih tetap setia mendampingi wanita yang sudah puluhan tahun bersamanya.

Sekali itu sang istri pernah dirawat inap di salah satu rumah sakit dengan memanfaatkan kartu BPJS kesehatan. Namun hingga kini mereka pun tidak mengetahui pasti penyakit apa yang dialami Sitinurbaya.

“Seminggu pernah dirawat. Kata Dokter sudah bisa pulang. Nggak tau sakitnya apa. Ya begitu, sudah sebulan hanya bisa berbaring, kakinya sulit untuk bergerak,” cerita Oloan.

Di rumah sakit Metta Medica tempat Sitinurbaya dirawat, Dokter pun pernah menyarankan agar sang istri dibawa ke Medan untuk berobat. Namun karena keterbatasan biaya, istrinya hanya mampu dirawat di rumah yang berlantaikan tanah itu.

“Bisa makan aja pun sudah syukur pak,”keluhnya.

Kondisi Oloan semakin terlihat memprihatinkan, untuk makan sehari-hari pun, Oloan yang ditemani putri beserta cucunya yang putus sekolah harus bekerja memulung barang bekas setiap harinya.

“Suami dari putri saya sudah setahun yang lalu meninggal. Anaknya ada lima, satu cucu saya nggak sekolah lagi. Mau gimana lagi, kami semua tinggal di rumah ini” kata Oloan.

Tiap malam, Oloan dan keluarganya hanya bisa pasrah menahan dinginnya hembusan angin malam menembus dinding dan atap rumahnya yang terlihat bocor itu.

“Cuma dapat beras rastra aja. Pihak Kelurahan juga pernah foto-foto, tapi nggak tahu untuk apa,” katanya lirih.

Menjadi seorang pemulung, tidaklah mudah bagi Oloan untuk memperbaiki rumahnya. Saat ini, untuk bisa makan pun, Oloan dan keluarganya sudah sangat bersyukur kepada sang Pencipta.

Kisah hidup Oloan membuktikan bahwa nasib dan rejeki manusia tidaklah sama.

Ketegaran Oloan mengajari kita untuk selalu bersyukur dalam situasi apapun.

Kini, Oloan hanya bisa mengantung harapan bagi para Dermawan yang mau berbagi dengan penuh keikhlasan. Masih adakah yang peduli?

 

Penulis : Hendra Simanjuntak

Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *