Aku, Sepatu dan Jodoh

MEDANHEADLINES.COM – Pagi hari ini, langkahku tidak seperti biasanya. Langkah yang begitu cepat, tiga kali dari biasanya. Ya, aku berlari dari rumah mengejar angkot dengan terburu-buru. Keringat tubuhku pun bercucuran. Deru nafas pun terengah-engah.

Berulang kali kuangkat tangan, untuk menghentikan angkot yang sedang lewat di depan gang rumahku. Namun, beberapa angkot yang lewat telah penuh, sehingga melewatiku begitu saja. Maklumlah, pagi hari bukan hanya pegawai, tetapi anak sekolah pun berebut naik kendaraan umum.

Dengan tidak sabar aku bolak balik melihat jam tangan, aku takut terlambat absensi di kantor. Aku mencoba pertimbangkan, apakah perlu naik transportasi online yang sekarang sedang trend itu. Tidak ada niat, selain untuk mempercepat waktu sampai ke kantor.

Baca Juga : Sosok Dalam Kaca

Akhirnya, kuputuskan naik transportasi online dengan sepeda motor. Di benakku, agar bisa cepat sampai kantor dengan cara potong jalan.

Seketika setelah aku pesan, teleponku pun berdering.

“Bu, apa ibu tadi yang memesan ini? Di mana tepatnya lokasi ibu mau dijemput?” tanya petugas taxi online tersebut.

Lalu kujawab “Iya Pak, aku tunggu di depan simpang jalan Biduri ya. Patokannya ada kedai nasi,”ujarku, masih dengan nafas yang terengah-engah.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, ya tak perlu menunggu lama, transportasi online tersebut menghampiri. Aku pun bergegas naik dan menegaskan agar segera bergerak cepat, karena aku mengejar waktu.

Ketika di atas sepeda motor itu, aku pun menyadari, bahwa ujung telapak sepatuku sedikit terlepas. Waduh, seketika hatiku pun gelisah. Ini sepatu kesayanganku yang selalu kupakai ke mana pun aku pergi.

Baca Juga : Cinta Tak Pernah Putus, Selama Masih Terendus, Pusss!

Dengan menghela nafas panjang, aku sadari akhir tiba perpisahan dengan sepatuku itu. Di sinilah mulai petualangaku mencari sepatu yang “pas” yang artinya pas di hati, pas di kaki dan pas di kantong.

Besok harinya, ketika hari libur, aku pergi ke mall untuk mencari sepatu pengganti yang sudah rusak itu. Dengan pikiran, aku ingin beli sepatu mahal, agar tahan lama dan pasti akan mendapatkan kenyamanan dalam menggunakannya.

Pilah-pilih kulakukan. Keluar masuk toko kujalani. Akhirnya, ketemu sepatu yang cocok, tetapi terlalu mahal. Dengan mencoba bolak balik, berjalan ke kanan dan ke kiri, aku kenakan sepatu itu di kakiku. Kebetulan kakiku unik ukuran dan bentuknya, sehingga susah mencari sepatu yang cocok dipakai.

Dengan penuh pertimbangan, akhirnya kubeli sepatu itu. Hatiku amat senang dan bahagia dapat mempunyai sepatu yang menurutku sepatu mahal dan pas untukku.

Baca Juga : Nelayan dan Cakrawala Senja

Besok harinya, aku langsung memakai sepatu itu ke mana pun. Baru saja setengah hari, sepatu itu membuat kakiku lecet dan bengkak. Ternyata ujung sepatu itu terlalu sempit di kakiku.

Waduh, seperti tertimpa musibah dari langit kurasa. Dengan kesal kulepas sepatu yang membuat kakiku lecet itu. Terpaksa aku harus membeli sepatu baru lagi.

Karena trauma, maka aku pun tidak lagi mencari sepatu di mall. Kakiku melangkah ke pasar tradisional yang ada di dekat rumahku.

“Mulai lagi berpetualang mencari sepatu. Dan kali ini harus benar-benar pas,”gumamku.

Aku menyusuri setiap sudut pasar, langkah kakiku seakan menjelajahi setiap toko sepatu yang ada, mataku pun sangat liar lirik ke segala penjuru.

Akhirnya, aku menemukan sepatu yang cocok. Kembali lagi kupatut kakiku ke sepatu itu. Aku coba berjalan ke kanan dan ke kiri. Setelah kurasakan tidak akan membuat kakiku lecet, maka kubeli sepatu baru itu yang secara nominal murah meriah.

Ketika keluar toko, aku putuskan langsung menggunakan sepatu baruku itu. Langkah ringan dan santai kulakukan, dengan menyusuri trotoar jalan.

Baca Juga : Bayang Pikiran Si Gimbal

Setelah berjalan beberapa lama, seperti merasa aneh jalanku. Sepatu itu seperti melebar dan perlahan tidak nyaman dipakai. Kembali kucoba mangatur langkahku, agar sepatu itu bisa kembali pas dipakai. Ternyata, tidak tertolong lagi, keceplak-keceplok langkahku tertatih-tatih. Sepatu itu sungguh tidak membuat nyaman. Sedih dan kesal yang kurasakan.

Bad mood menggerogoti hatiku. Sungguh membuatku gelisah. Aku pun terduduk di persimpangan jalan, aku merenung, mencari sepatu ternyata tidak semudah yang kubayangkan.

Mempunyai uang pun, tidak ada jaminan, yang artinya uang tidak berarti, jika tidak mendapatkan sepatu yang “pas” di kakiku.

Di tengah hiruk pikuk ramainya kota, kuberfikir mencari sepatu itu seperti mencari jodoh. Untuk mencari sepatu yang cocok kita harus berkali-kali mencoba dan memilih, padahal itu untuk sesuatu yang diinjak-injak. Apalagi, untuk mendapatkan “jodoh” yang notabene untuk seumur hidup bersama. Pastinya harus lebih berhati- hati dalam memilih pasangan hidup.

Baca Juga : Bumi dan Partikel Kecil

Setelah hatiku tenang, aku melihat ada toko sepatu di dekat tempatku duduk. Maka, dengan semangat pantang menyerah untuk mendapatkan sepatu yang “pas” membuatku memasuki toko itu. Kumelihat ke sana ke mari, untuk mencari model sepatu yang cocok di hati.

Akhirnya kuputuskan mau mencoba salah satu sepatu di rak paling atas. Berhubung badanku pendek, aku berusaha meraih sepatu itu dengan menjinjit, karena tidak terjangkau, aku terpaksa melompat kecil.

Tiba-tiba ada seseorang membantuku mengambilkan sepatu itu. Dengan senyum ramah, Dia bertanya nomor sepatuku ukuran berapa. Sejenak aku terdiam, terpesona dengan keramahan dan kegantengannya. Kubertanya dalam hati “apakah ini namanya cinta pandangan pertama”. Hatiku bergetar mendengar suaranya. Mataku tak berkedip melihat rupanya.

Setelah berkenalan dan ngobrol panjang, ternyata Dia yang punya toko tersebut. Sungguh menyenangkan, di toko ini aku bisa menempah sepatu sesuai dengan yang kumau.

Debar hati dalam doa, aku berharap mendapatkan sepatuku, serta jodoh untuk seumur hidup. Seketika, terlintas dalam benakku, bahwa usaha pantang menyerah, tidak akan mengkhianati hasil.

Penulis : Feby Milanie

Please follow and like us:
0

4 thoughts on “Aku, Sepatu dan Jodoh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *