1 Dolar Sentuh Rp 15 Ribu, Sangat Mengkhawatirkan! Lantas?

Foto : IST

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Mata uang rupiah pada hari ini kembali menyentuh level 15.000 per US Dolar. Hal ini pun sangat mengkhawatirkan banyak pihak. Pemicunya masih ditenggarai oleh buruknya kondisi eksternal. Di antaranya kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS, krisis yang melanda sejumlah Negara berkembang, ditambah dengan perang dagang yang terus berkecamuk yang diinisiasi oleh Amerika Serikat.

Tekanan eksternal yang begitu besar tersebut, membuat sejumlah indikator ekonomi internal mengalami perubahan. Rupiah melemah, CAD membesar dan membat serangkaian kebijakan ekonomi pemerintah kembali di evaluasi. Semunya dilakukan guna menstabilkan mata uang Rupiah terlebih dahulu. Sebenarnya siklus krisis seperti ini juga terjadi sebelumnya.

Di tahun 98 bangsa ini pernah mengalami krisis parah. Selanjutnya di kisaran tahun 2008 krisis sektor perumahan di AS serta muncul krisis di Eropa, dan 2018 kita kembali berhadapan dengan krisis yang tidak jauh berbeda. Namun dari siklus 10 tahunan tersebut, saat ini indikatornya sangat jauh  berbeda terlebih jika dibandingkan dengan saat ini.

Salah satunya dari tekanan laju inflasi yang relative terkendali. Masih sesuai target BI, berbeda dengan inflasi di tahun 98 yang sempat menyentuh level 17%an, berbeda dengan sekarang yang masih 3%an. Laju pertumbuhan juga terpantau stabil dikisaran 5%an. Bandingkan dengan krisis 98 yang minus 13 persenan.

Nah pengalaman krisis selanjutnya ada di tahun 2018. Di mana krisis ini juga dipicu oleh memburuknya sisi eksternal. Jika berkaca kepada keberhasilan pemerintah dalam meredam mata uang rupiah. Tahun 2005 saat itu Gubernur BI menaikkan bunga acuan hingga 12.75%. Jadi kalau berhitung kebijakan apa yang akan diambil pemerintah dalam waktu dekat terkait dengan pelemahan Rupiah. Akan tetapi dengan mengabaikan opsi menaikkan harga BBM, maka ada beberapa hal yang bisa dicermati.

Pertama pemerintah sudah menjadwalkan ulang (menunda) sejumlah proyek infratstuktur yang membebani Rupiah. Kebijakan ini sudah diambil. Namun dampak negatifnya adalah pengangguran bertambah, selanjutnya pertumbuhan ekonomi melambat. Kebijakan membatasi sejumlah kebutuhan impor secara langsung yang dilakukan pemerintah saat ini juga memberikan dampak yang sama.

Kedua, BI menaikkan bunga acuan secara drastis atau hingga double digit. Hal ini pernah dilakukan di era Gubernur BI bapak Budiono. Kala itu bunga acuan terkerek sampai 12.75%. Nah menaikkan bunga acuan ini sangat memungkinkan. Dikarenakan bunga acuan kita khususnya dari BI 7 DRR saat ini mash bertengger di level 5.5%. Artinya ruang menaikkan bunga acuan masih terbuka jika mengacu kepada besaran BI rate yang pernah ditetapkan saat mengahadapi tekanan Rupiah di tahun 2005 silam.

Kebijakan lain yang bisa dilakukan oleh BI adalah mengintervensi pasar keuangan kita dengan sejumlah instrument lainnya. Hanya saja kebijakan seperti ini, juga nantinya akan menjadi penghambat penyaluran kredit. Yang bermuara pada perlambatan laju pertumbuhan ekonomi nasional.

Selanjutnya adalah dengan mengandalkan pinjaman dari lembaga keuangan seperti IMF, maupun pasokan valas yang sudah tertuang dalam perjanjian pertukaran mata uang atau currency swap. Kebijakan seperti ini memang bisa dilakukan, namun pemerintah cenderung untuk menjadikan kebijakan tersebut sebagai benteng terakhir.

Opsi lain yang bisa diambil adalah dengan menaikkan harga BBM. Kebijakan seperti ini sangat berkorelasi dengan pengendalian defist neraca perdagangan. Kebijakan ini sangat tepat diambil, karena secara fundamental kebijakan seperti ini akan mengurangi permintaan US Dolar di tanah air. Namun, butuh kemauan politik yang besar untuk merealisasikannya.

Terakhir adalah dengan menggenjot ekspor. Tetapi di tengah kondisi perang dagang seperti sekarang, krisis yang melanda sejumlah Negara, ditambah dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi global, penurunan harga komoditas dunia. Bisa dipastikan menggenjot ekspor sangat tidak memungkinkan bisa menyelesaikan masalah terlebih bila berharap ada manfaatnya dalam jangka pendek.

Termasuk kebijakan terkait dengan penarikan devisa hasil ekspor yang terus diupayakan. Ataupun upaya lain yang mengarahan kita untuk melepas asset dalam bentuk US dolar. Belum tentu efektif dan hasilnya bisa didapat secara instan.

Selebihnya kita hanya bisa berharap bahwa kondisi ekonomi global bisa membaik, dan memberikan pengaruh positif bagi perekonomian nasional secara lebih menyeluruh.

Penulis : Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin

 

Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *