Kasus Salah Tangkap dan Penyiksaan Kembali Terulang di Tubuh Kepolisian, Satu Orang Ditangkap Paksa dan Lainnya Meninggal Dunia

Foto : Koordinator KontraS Sumut Amin Multazam Lubis

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Kasus salah tangkap, ketidakprofesionalan aparat penegak hokum dalam pengungkapan kasus, peradilan sesat hingga dugaan penyiksaan kembali terulang di jajaran Kepolisian Republik Indonesia.

Kali ini melibatkan oknum kepolisian dari Polsek Penyabungan Kota yang melakukan penangkapan kepada tiga orang yang dituduh melakukan pencurian. Tidak hanya itu, dugaan kekerasan juga dilakukan oleh oknum kepolisian hingga menyebabkan satu orang meninggal dunia.

Yusril Mahendra alias Ucin, 19 tahun, menjadi salah satu korban yang mendapatkan perlakukan kasar dari kepolisian. Warga Desa Gunung Tua Julu, Kecamatan Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal itu ditangkap Polsek Panyabungan Kota pada Kamis, 19 Oktober 2017 lalu di sebuah warnet dengan dalil terkait kasus kepemilikan senjata tajam.

Namun saat diinterogasi oleh polisi, dia malah dituduh sebagai pelaku pencurian di rumah milik seorang nenek berusia 86 tahun Siti Aminah. Dalam proses interogasi tersebutlah, Yusril mengaku mendapat penyiksaan ketika ditangkap polisi.

“Ada empat orang yang nangkap aku. Langsung dipukulinya aku,” kata Yusril saat ditemui di Kantor Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Sumatera Utara pada Kamis,(16/8/2018).

Yusril mengaku meski ditangkap karena tuduhan kepemilikan senjata tajam, namun dirinya terus menerus diberondong dengan pertanyaan terkait pencurian di rumah Siti Aminah.

Yusril bahkan dipaksa dengan cara dipukul untuk mengakui bahwa dirinya ikut terlibat aksi pencurian bersama dengan ayah tirinya, Kaharuddin. Karena tidak tahan terus dihujani pukulan dari kepolisian, Yusril akhirnya terpaksa mengakui aksi pencurian yang sebenarnya tidak pernah dilakukannya seperti yang diinginkan oleh kepolisian.

Pengakuan terpaksa yang dilakukan Yusril menjadi alasan kepolisian untuk menangkap ayah tiri Yusril, Kaharuddin. Kaharuddin ditangkap di Kota Medan pada 5 Januari 2018 dan dibawa kembali pulang ke Penyabungan. Namun dua hari kemudian, keluarga mendapatkan kabar bahwa Kaharuddin telah meninggal dunia di RSUD Panyabungan.

Padahal menurut pengakuan istri Kaharuddin, Junaidah yang ikut hadir di Kantor KontraS Sumut, suaminya saat terjadi pencurian tengah berada di rumah.

“Saya ingat betul, suami saya itu tidak bersalah. Karena saat kejadian pencurian, dia berada di rumah bersama saya”, ujar Junaidah singkat sambil menyeka air matanya menahan tangis.

Pada akhirnya Yusril mendapat vonis atas dua kasus yang berbeda. Pertama terkait kepemilikan senjata tajam yang disidangkan di Pengadilan Negeri Madina di mana Yusril dihukum enam bulan penjara dikurangi masa tahanan lima bulan.

Setelah selesaikan masa tahanan, Yusril kembali ditangkap dan diadili atas kasus dugaan pencurian. Akhirnya Yusril divonis 3 tahun 6 bulan melalui Surat Keputusan Pengadilan Negeri Mandailing Natal Nomor 47/Pid.B/2018/PN Mdl pada Mei 2018.

Keputusan ini yang kemudian ditangani oleh KontraS Sumut dan Aliansi Masyarakat Anti Penyiksaan (SIKAP). Mereka melakukan banding atas putusan PN Madina di Pengadilan Tinggi Medan hingga akhirnya memenangkan banding lewat putusan Pengadilan T inggi Medan Nomor 504 /Pid/2018/PT MDN.

“Dengan keputusan itu, Yusril bebas dari segala dakwaan. Putusan banding ini jadi titik balik keluarga untuk mencari keadilan. Termasuk soal kematian ayah tiri Yusril, yaitu almarhum Kaharuddin,” kata Koordinator KontraS Sumut Amin Multazam Lubis.

Amin mengatakan jika KontraS dan SIKAP menilai jika banyak kejanggalan dalam kasus ini. Bagaimana Yusril ditangkap dengan dalil kepemilikan senjata tajam, namun justru diinterogasi terkait kasus lainnya. Begitu pun terkait kekerasan yang dilakukan oknum kepolisian guna membuat Yusril mengakui suatu asumsi dari kepolisian.

Belum lagi, ketidakjelasan terkait kematian ayah tiri Yusril bernama Kaharuddin. Berbagai hal tersebut menjadi bukti ketidakprofesionalan kepolisian dalam menangani kasus.

Apalagi, banding yang dilakukan pada akhirnya diterima pengadilan. Keputusan ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukan kepolisian Polsek Penyabungan Kota sudah menyalahi aturan.

Ketidakprofesionalan dan arogansi personel Polsek Panyabungan Kota dalam mengungkap sebuah tindak pidana juga dianggap bukan saja menunjukkan kegagalan dalam mengungkap pelaku, namun ikut melukai rasa keadilan. Padahal KUHAP jelas mengatur bagaimana tata cara penangkapan, penahanan hingga adanya prinsip dan standar Hak Asasi Manusia (HAM) yang wajib dilaksanakan polisi dalam setiap penyelenggaraan tugasnya. Dalam hemat kami, jika segala prosedur tersebut dilakukan Yusril dan Kahar pasti tidak mengalami hal demikian.

Ihwal itu, KontraS dan SIKAP mendesak Kapolda untuk segera mengevaluasi kinerja jajarannya, khususnya Polsek Panyabungan Kota agar kejadian serupa tidak terulang lagi di Sumatera Utara. Pihaknya juga mengaku akan segera menyiapkan laporan pengaduan ke Propam Polda Sumut.

“Kami ingin kasus ini jelas terang benderang. Ini mempertaruhkan keadilan dan menunjukkan apakah kepolisian masih bisa dipercaya sebagai pelindung masyarakat atau justru sebaliknya,”pungkas Amin.

Sementara itu, Kapolres Madina, AKBP Irsan Sinuaji mengatakan, ia kurang memahami bagaimana kronologisnya. Namun ia mengetahui bahwa keluarga korban menuntut dan meminta otopsi.

“Saya kronologisnya kurang paham, yang jelas pada saat ini kan kondisinya keluarga yang meninggal itu minta dilakukan otopsi melalui phnya, beberapa mingu kemarin masuk suratnya. Jadi kita sedang ajukan surat otopsinya. Masalah yang perkembangan penahan yang dia bebas, itu sudah di ranah kejekasaan. Dikejaksaan sedang melakukan kasasi,”katanya.

Ketika ditanya terkait sudah memakan 8 bulan baru otopsi, Irsan mengaku kurang memahami.
“Saya kurang tau itu, yang jelas pada zaman saya bulan kemarin masuknya itu,”ungkapnya.

Bahkan, Irsan menampik bahwa ada kekerasan. “Sementara kalau dari anggota gak ada penyiksaan. Untuk lebih jelasnya konfirmasi ke Kasat Reskrim saja ya. Kebetulan saya lagi persiapan juga,”pungkasnya.(ask)

Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *