Altruisme Dalam Masyarakat Kapitalis

MEDANHEADLINES.COM – Dalam kehidupan masyarakat kapitalis saat ini, bukanlah hal yang mudah untuk menemukan ketulusan dan keiklasan. Interaksi sosial sering kali didasari oleh kepentingan dan kesamaan identitas. Kapitalisme telah membelit kehidupan manusia dan mendorong kita untuk selalu mementingkan keuntungan diri sendiri. Keserakahan, ketidakadilan dan konsumerisme seakan menjadi karakter umum dari masyarakat kapitalis.

Namun demikian, bukan berarti tak bersisa sedikit pun kebaikan dalam masyarakat kapitalis. Masih ada kebaikan – kebaikan yang dapat kita temui dalam kehidupan sehari – hari. Masih dapat kita temui indvidu yang mengorbankan kepentingan pribadinya demi kepentingan orang lain. Masih ada saja pekerja – pekerja sosial yang mengabdikan hidupnya untuk masyarakat, tanpa mengharapkan imbalan. Sikap inilah yang disebut dengan altruisme.

Secara umum altruisme merupakan niat baik seseorang untuk menolong orang lainnya tanpa pamrih. Dalam altruisme, keiklasan adalah hal yang utama. Seperti diungkapkan Baron dan Byrne (1996) bahwa altruisme merupakan prilaku yang merugikan diri sendiri demi kepentingan dan kesejahteraan orang lain. Hal yang serupa diungkapkan pula oleh Myers, altruisme adalah motivasi untuk menolong orang lain tanpa mementingkan kepentingan diri sendiri.

Adalah bapak Sosiologi, Auguste Comte yang awalnya menemukan altruisme. Comte mendefenisikan altruisme sebagai “living for others”. Dalam kajiannya, Comte memandang altruisme diperlukan sebagai identitas kewargaan dan syarat bagi terbentuknya masyarakat (Robert, 2013). Pandangan Comte ini tentu tak berlebihan. Karena hubungan – hubungan sosial akan terjalin kuat bila ada keiklasan individu untuk mengutamakan kepentingan individu lainnya. Dari sinilah dapat tercipta solidaritas di dalam masyarakat.

Altruisme ini dapat berkembang di berbagai kondisi sosial, bahkan di dalam masyarakat kapitalis sekalipun. Bahkan berbagai media pernah menyiarkan dan memberikan penghargaan pada pelaku altruisme. Misalnya saja di Bandung, Jack, seorang tukang parkir mendirikan sekolah gratis untuk anak tidak mampu di sekitar rumahnya. Sementara itu, Sadiman, kakek berusia 60 tahunan, selama hampir 20 tahun menanami bukit gersang di Wonogiri. Di Medan sendiri, dokter Aznan Lelo mengabdikan diri untuk menyembuhkan penyakit pasiennya tanpa memasang tarif. Kisah altruisme ini seakan menjadi harapan di tengah pesimisme pada dimensi positif masyarakat kapitalis.

Kampung Kasih Sayang

Kisah altruisme lainnya terdapat di pelosok Langkat. Kampung Matfa atau lebih dikenal kampung kasih sayang, terletak di Kelurahan Telaga Said, Kecamatan Sei Lapan, Kabupaten Langkat. Di kampung ini, nilai kasih sayang menjadi yang utama. Kehidupan warga kampung dibangun oleh kebersamaan, gotong – royong dan saling membantu. Sikap indvidualis dan egois seakan tak ada tempat di kampung ini.

Baca Juga : Politik Primitif dan kantong Doraemon

Di Kampung Kasih Sayang ini, para warganya merelakan harta benda pribadinya untuk kepentingan bersama. Harta yang dikumpulkan ini dikelola di sebuah Baitul Mal. Dana yang terkumpul digunakan untuk membeli bibit pertanian, modal industri rumahan, perdagangan, pendidikan, kesehatan dsb. Sehari – hari warga bekerja di berbagai sektor, antara lain sektor pertanian, peternakan, perikanan, industri rumahan dsb. Keuntungan dari berbagai sektor ini kemudian dikumpulkan lagi menjadi satu di Baitul Mal. Kemudian dana digunakan kembali untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari – hari para warga kampung.

Di kampung ini, harta benda dimiliki bersama. Kendaraan bermotor mulai dari sepeda motor sampai mobil dimiliki bersama. Setiap yang memerlukan boleh menggunakannya secara bergantian. Sistem sosial seperti ini tentu dapat mempersempit jurang pemisah antara si kaya dan si miskin.

Budaya gotong – royong juga sangat kental di Kampung Kasih Sayang ini. Misalnya saja untuk kebutuhan makan, setiap harinya para ibu bertugas untuk memasak sarapan, makan siang sampai makan malam bersama – sama. Terdapat beberapa kelompok ibu – ibu yang bertugas menyiapkan makanan untuk semua warga kampung. Mereka bekerja tanpa mendapatkan upah. Keiklasan mereka untuk menyediakan waktu dan tenaganya merupakan salah satu bentuk kasih dan sayang.

Menguji Tindakan Altruisme

Beberapa kisah di atas dapat dikatakan mengarah pada altruisme. Namun demikian untuk menguji suatu tindakan dapat dikatakan altruisme atau tidak, dibutuhkan beberapa prasyarat. Monroe mengungkapkan lima prasyarat altruisme yaitu pertama altruisme haruslah berbentuk tindakan. Altruisme tidak dapat berbentuk niat atau rencana. Kedua, tindakan itu harus mengarah pada tujuan, secara sadar maupun refleks. Ketiga, tindakan terutama harus bertujuan untuk kepentingan orang lain. Keempat, niat lebih penting daripada konsekuensi. Kelima, tindakan itu harus berakibat pada berkurangnya kepentingan diri sendiri atau dapat merugikan diri sendiri demi kepentingan orang lain (Robet, 2013).

Pada kisah Jack, Sadiman, Aznan Lelo dan warga Kampung Kasih Sayang, altruisme memang mereka praktekkan dalam kehidupan sehari – hari. Jadi bukan sekedar niat apalagi janji semata. Tindakan mereka juga bertujuan untuk kepentingan orang lain. Jack membuka sekolah gratis untuk mencerdaskan anak – anak tidak mampu di sekitar rumahnya. Sadiman, menghabiskan waktunya menanami bukit untuk mencegah kerusakan alam yang mengakibatkan banjir dan kekeringan yang pernah dirasakan warga sebelumnya. Sementara itu, dokter Aznan Lelo membuka praktek untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat luas, khususnya masyarakat tidak mampu. Begitu pula dengan warga Kampung Kasih Sayang yang hidup bersama untuk menebarkan nilai kasih sayang, mempersempit kesenjangan sosial dan menyingkirkan egosime serta keserakahan.

Kisah – kisah di atas juga menunjukkan keiklasan manusia untuk mengutamakan kepentingan orang lain dibandingkan diri sendiri. Walaupun untuk demikian, mereka harus menerima kerugian. Sangat jelas bahwa Jack, Sadiman, dokter Aznan Lelo dan warga kampung Matfa telah mengorbankan harta benda, waktu, tenaga, pemikiran dan apa saja yang bisa mereka sumbangkan demi kepentingan orang lain. Apa yang mereka lakukan ini jelas merugikan diri mereka sendiri.  Kesenangan – kesenangan yang harusnya dinikmati sendiri malahan mereka bagi dengan orang lain. Sikap apatis yang membuat hidup mereka lebih mudah, malah mereka tinggalkan. Kesemuanya rela bersusah payah demi kepentingan orang lain.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa kisah – kisah tersebut mengarah pada altruisme. Dan bahwa altruisme bukanlah hal yang mustahil bagi masyarakat kapitalis sekalipun. Melalui altruismelah kapitalis menemukan perlawanannya. Perlawanan terhadap keserakahan dan egoisme.

 

Penulis : Puteri Atikah, M.Sos

Peneliti Lembaga Kajian Sosiologi

 

 

 

Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *