Bayang Pikiran Si Gimbal

Foto : Ilustrasi (ist)

MEDANHEADLINES.COM – Angin berhembus kencang, dari kejauhan berjalan pria berambut gimbal yang memakai celana sobek di lutut. Ia melangkahkan kaki ke arah Ken, seorang petani di kawasan bukit “Sarudik”. Pria dengan kaos lusuh itu tampak membawa gitar, layaknya Bob Marley ia berjalan santai.

Setibanya di hadapan Ken, ia pun meminta pesanan yang sudah dipesan melalui pesan singkat telepon selular. Ken pun berteriak memanggil Gun, adik sepupunya yang sudah satu bulan datang dari kampung.

“Gun..! ambilkan bungkusan yang di atas meja”

Gun pun beranjak, sedikit mendaki, Gun menghampiri sebuah gubuk peristirahatan. Lantas, datang kembali membawa satu bungkusan kecil berisi ganja. Pesanan pun diberikan Gun. Si pria berambut gimbal memberikan uang sebagai bayaran.

“Kau tak mau duduk sebentar?” tanya Ken

“Lanjutlah ya, angin semakin buas, aku mau membuat indah matiku,” jawab si pria berambut gimbal sembari berpaling.

Lagi, dengan santainya, ia melangkahkan kaki menjauhi Ken dan Gun. Langkahnya semakin jauh, jauh, jauh dan menghilang.

“Bang, aku sedikit heran dengan setiap perkataan abang itu. Setiap datang ke sini, aneh saja cakapnya. Apakah sudah lari juga otaknya itu dibuat ganja ini? penampilannya pun aneh gitu,” tanya Gun pada Ken.

“Kau salah, jangan menilai dari luar saja. Tapi, yang harus kau ketahui, setidaknya kau harus membaca lebih dari 100 buku, untuk menyerupai kajiannya,” ungkap Ken.

Gun tampak bingung. Sebelum kebingungan Gun berkepanjangan, Ken pun bercerita tentang si pria berambut gimbal. Dijelaskannya, pria berambut gimbal itu merupakan seorang seniman besar, yang cukup terkenal di kota.

Ia kerap mengisi berbagai diskusi mahasiswa di kampus, berbagai acara seni, dari mulai lesehan kaki lima sampai gedung bertingkat. Banyak orang yang berguru padanya, banyak yang salut padanya, tak bisa dipungkiri, Ken pun memiliki rasa kagum dengan si pria berambut gimbal.

Ken mengatakan, setiap minggu si pria berambut gimbal datang ke tempatnya. Lantas mengambil pesanan ganja yang khusus dikonsumsi sendiri olehnya. Bagi si pria berambut gimbal barang itu bagaikan sebuah sumber inspirasi yang tak terbatas.

Ia sosok yang bersahaja, tak pernah merasa jumawa. Ia tak mau dibayar apabila diminta mengisi sebuah acara. Ia memiliki usaha sablon baju, dari situ lah sumber pendanaan yang membiayai kehidupannya di dunia.

“Kenapa dia tadi mengatakan ingin membuat indah matinya?” tanya Gun.

Ken pun tersenyum. Ia menuturkan dengan pelan, bahwa pemikiran si pria berambut gimbal berbeda dari kebanyakan orang.

“Pemikirannya sungguh nyeleneh, ada yang bilang surealis, ada yang bilang posmodernis, ada yang bilang tasawuf, sufi dan banyak lagi pandangan terhadapnya,” kata Ken.

Baginya hidup di dunia ini, bagaikan mimpi yang seakan-akan nyata. Namun, kenyataan sesungguhnya jika kita sudah bangun dari mimpi itu. Kerap juga ia mengatakan mati itu hidup dan hidup itu mati.

“Hidup menurut kita, dianggap mati dan mati menurut kita, dianggapnya hidup. Kajianku pun tak sampai ke situ. Tapi bagaimana pun aku mengakui dia orang cerdas. Kau bayangkan lah itu dulu, nanti kita lanjut,” tutup Ken sembari pergi membawa cangkul ke arah gubuk.

 

Penulis : Ryan Achdiral Juskal

Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *