Ketua F-PKS DPRD Medan : Tingginya Tarif Tol Akibatkan Jalan Primer Tetap Macet

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Tingginya tarif jalan tol dikeluhkan masyarakat Medan yang sering menggunakannya. Jalan Tol yang diharapkan bisa mengurai kemacetan jalan itu, tarifnya dianggap warga sangat mencekik leher.

Sebagai contoh, tarif jalan tol Tanjung Mulia ke Sei Rampah dikenakan biaya sebesar Rp50 ribu, Amplas-Rampah Rp47 ribu. Menyahuti keluhan masyarakat ini, Ketua F-PKS DPRD Medan Jumadi, Selasa (7/8) mengungkapkan bahwa tingginya tarif tol tersebut dikarenakan tidak dikelola murni oleh PT Jasa Marga.

“Kalau dulu, penetapan tarif tol berdasarkan kesepakatan dengan DPR. Berapa presentase kenaikan, kapan waktu dinaikan. Itu semua ada tahapan-tahapannya,” ujar Anggota Komisi B di ruang kerjanya kepada wartawan.

Sekarang banyak jalan tol yang dikelola pihak ketiga, baik swasta asing maupun swasta dalam negeri. Dengan kondisi ini, tarif yang mereka berlakukan tentu saja mengacu kepada tarif standar internasional.

“Pertanyaannya, dengan penetapan tarif tinggi tersebut apakah sudah sesuai dengan kondisi ekonomi kita. Demikian juga dengan kemampuan masyarakat untuk menggunakan tol tersebut,” ujarnya lagi.

Diilustrasikannya, tarif tol dari Medan menuju Sei Rampah yang jaraknya 42 Km. Pengguna jalan tol dikenakan tarif sebesar Rp41 ribu. Demikian pula dari Bandara Kuala Namu ke Sei Rampah berjarak 42 kilometer, harus membayar Rp41 ribu. Sementara, jalan tol yang dikelola oleh PT Jasa Marga dari Tanjung Morawa ke Belawan dengan jarak 32 kilometer, hanya dikenakan Rp8 ribu. Dengan jarak tersebut, perbedaannya sangat mencolok.

“Cukup jauh perbedaan tarifnya,” cetusnya.

Disebutkannya, keberadaan jalan tol bukan semata-mata bagian dari bisnis. Sebab jalan tol itu merupakan sarana pelayanan publik yang digunakan masyarakat banyak. Lagi pula tujuan dibangunnya jalan tol juga untuk mengurai kemacatan lalu lintas di jalan primer, mempercepat transportasi pelayanan darat.

“Dengan mahalnya tarif tersebut akhirnya masyarakat umum enggan melaluinya. Artinya, rencana untuk mengurangi dampak kemacetan lalu lintas yang ada di jalan primer, tidak tercapai. Karena kendaraan umum dan truk lebih banyak memilih jalan melalui jalan primer karena mahalnya tarif tol. Kalaupun selisih dua jam lebih lambat jika melalui jalan primer, paling tidak para pengusaha dan supir bisa menghemat biaya,nya,”terang

“Meksipun selisih waktu tempuh sampai dua jam, apabila sekali melintas dikenakan Rp122 ribu, supirnya pasti berpikir, uang sebanyak itu bisa digunakan untuk makan dua hari. Ini jadi pertimbangan rakyat kecil, khususnya supir,” sebutnya mengakhiri. (raj)

Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *