Praktisi Intelijen Buka Suara Tentang Kerusuhan 98, Ini Penjelasannya

MEDANHEADLINES.COM – Gonjang-ganjing permasalahan kasus hak azasi manusia yang terjadi pada gerakan reformasi 98 membuat banyak pihak berspekulasi, dengan mengeluarkan kesimpulan-kesimpulan yang menyudutkan kesalahan.

Hal ini pun dikhawatirkan Praktisi Intiljen, Fauka Noor Farid. Sebab, menurut Fauka, kebenaran harus diungkap dengan transparan.

Disampaikannya, peristiwa kerusuhan 98, kerap menyalahkan Prabowo, yang dituduh menjadi dalang. Bahkan digaungkan harus bertanggung jawab dalam peristiwa itu.

“Itu adalah tuduhan yang tidak mendasar dan tidak masuk akal. Prabowo yang saat itu menjabat sebagau Pangkostrat jauh dari tanggung jawab atas peristiwa tersebut, karena pengamanan atas kota Jakarta adalah Pangdam Jaya dan Panglima TNI pada saat itu Wiranto,”ujarnya pada Medan Headlines Selasa (31/7/2018).

Saat kerusuhan itu, terang Fauka Noor Farid, Prabowo sudah memberi tahu Wiranto yang saat itu akan menghadiri pelantikan Pangdiv di Malang untuk mengurungkan niatnya menghadiri acara tersebut.

“Sudah diberitahu, tapi Wiranto tetap memaksa. Pertanyaanya ada apa ini? Ada skenario apa???  Kenapa Wiranto membawa semua jendral termasuk Pangdam Jaya keluar Jakarta, sementara hanya Prabowo yang dibiarkan di Jakarta. Kan ada indikasi mau dikorbankan atau mau dijadikan kambing hitam atas peristiwa tersebut.

Menurut analisis Fauka Noor Farid, sebagai Panglima TNI harusnya Wiranto ada di Jakarta, mengendalikan situasi, bukan malah pergi ke Malang,”terangnya.

Dijelaskan Fauka Noor Farid, harusnya masyarakat berterima kasih kepada Prabowo, karena adanya Prabowo di Jakarta, istana masih bisa diselamatkan dari amuk massa atau tindakan brutal.

“Prabowo menaruh pasukan Kostrat di sekitar istana dan prabowo pulalah yang meminta Pangdam Jaya untuk pulang, karena keamanan Jakarta tanggung jawab Pangdam Jaya,”ungkapnya.

Ditambahkannya, berbicara tanggung jawab kerusuhan Jakarta, seharusnya adalah tanggung jawab Wiranto yang pada saat itu menjabat Panglima TNI.

“Bukan Prabowo, karena di militer tindakan Wiranto ini adalah in subordinasi dan itu fatal, karena sama saja tinggalkan daerah tugas, apalagi saat ada kekacauan, beratlah hukumannya. Jadi saya pikir pak Wiranto harus gentle lah. Justru Prabowo ini melindungi semua komando yang ada di atasnya.  Prabowo mengorbankan dirinya untuk melindungi orang-orang yang harus bertanggung jawab terhadap peristiwa tersebut. Jadi jangan Prabowo dijadikan kambing hitam terus untuk politiknya mereka,”pungkasnya. (raj)

Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *