Monster Hitam Gelap Itu Bernama Depresi

Foto : Ilustrasi (IST)

MEDANHEADLINES.COM – Mereka berkata kepadaku, untuk mencari tahu mengapa aku merasa sakit. Aku tahu dengan baik. Aku sakit karena diriku sendiri. Ini semua salahku karena aku memiliki banyak kekurangan. Dokter, inikah yang mau kalian dengar? Tidak. Aku tidak melakukan kesalahan apa pun.

Aku sudah katakan. Mengapa kalian tak mendengarkan? Hal yang bisa kalian atasi bukanlah bekas luka seumur hidup. Aku memang tak pernah tercipta untuk melawan dunia.

Apa yang bisa aku katakan. Katakan saja aku telah melakukannya dengan baik, Itu cukup bagus. Bahwa aku telah bekerja keras. Meski Anda tak bisa tersenyum jangan salahkan aku. Anda berhasil, Anda telah bekerja keras. Selamat tinggal,”

Di atas adalah potongan pesan kematian oleh seorang artis ternama Korea Selatan. Tak perlu sebut namanya, karena itu pasti menyakiti hati penggemarnya. Potongan pesan kematian itu hanya sebagai rujukan, bahwa depresi itu tumbuh dari ketidakmauan orang-orang terdekat untuk mendengar keluhan.

Di zaman ini, banyak orang selalu berkomentar, “Ah, biasa itu. Bla bla bla ah, biasa itu,” setiap kali mendengar curhatan seorang teman.

Temannya kesusahan, lalu curhat, mereka bilang, “Ah, biasa itu,”
Temannya kemalangan, lalu curhat, mereka bilang, “Ah, biasa itu,”
Temannya sedang terpuruk, lalu curhat, mereka bilang, “Ah, biasa itu,”
Temannya depresi, lalu curhat, mereka bilang, “Ah, biasa itu,”
Besoknya, ketika melihat temannya mati bunuh diri karena depresi, mereka bilang, “Bodoh sekali dia bunuh diri,”

Depresi itu tumbuh mulai dari kecil sekali. Lama-lama dia membesar karena komentar masyarakat sekitar yang seolah-olah mengerdilkan kesusahan yang tengah dihadapinya.

Ayolah, daya tahan tubuh setiap manusia dalam menghadapi masalah itu berbeda. Jangan anggap hatimu yang keras bagai batu itu juga dimilikinya yang melihat anak kucing dibuang saja sudah susah hatinya.

Tak perlu data akurat mengenai angka bunuh diri akibat depresi di negara besar bernama Indonesia ini, sebab orang-orang yang depresi juga tak menyebut dirinya depresi kepada orang lain. Karena apa? Karena tak ada lagi rasa empati dan simpati di zaman modern ini. Depresi dianggap tabu, dianggap sebagai penyakit atau perasaan yang mengada-ada. Singkat kata, lebay.

Ketika si A mengeluh lelah, mengeluh penat, capek, suntuk, cemas, takut, khawatir dan gelisah, si B, orang yang dianggapnya adalah teman baik malah berkomentar, “Lebay kali, masih segitu aja. Aku dulu bla bla bla bla bla bla,” dan malah menganggap dirinya beribu-ribu lebih baik dari si A.

Ayolah, ketangguhan setiap manusia itu tidak sama. Aku, mungkin tak setangguh dirimu.

Kau tahu apa yang terjadi pada si A? Dia menganggap dirinya lemah, tak berguna, sampah. Karena apa? Karena setiap orang yang dia inginkan untuk berbagi keluh kesah mengenai masalah hidupnya, selalu mengatakan, “Baru segitu aja, udah ngeluh,” di tahap ini, ada setitik bayangan hitam di pelupuk matanya.

Mengeluh adalah manusiawi. Sama seperti menangis. Ketika kita sedih, kecewa atau marah sekalipun, kita pasti akan menangis. Meski ya, ada yang benar-benar mencurahkannya, ada pula yang menahannya.

Ketika kita merasa lelah, letih, gelisah, hidup tak adil, ingin marah namun tak bisa, kita pasti ingin mengeluhkannya. Entah bagaimana pun caranya. Mengeluh bukan berarti tak mampu, tapi hanya ingin mencurahkan perasaan yang selama ini disimpan dalam hati dan kepala. Usai mengeluh, kita akan bisa menerima hidup kita seperti sediakala.

Kita.. hanya ingin didengarkan.

Ketika keluhan itu tak lagi ada yang mau mendengar, maka masalah yang ditanggung itu berubah menjadi kegelisahan, kecemasan, hingga ketakutan.

Awalnya kecil sekali, seperti tak ingin melakukan apa pun semisal jalan-jalan, menonton atau membaca buku. Dia hanya senang menyendiri sembari mendengar lagu sedih. Pada titik ini, bayangan hitam di pelupuk matanya mulai membesar berkali-kali dari sebelumnya.

Kemudian, kegelisahan itu berubah menjadi tak enak makan, tak enak tidur karena terus memikirkan masalah yang tak kunjung selesai. Lama-lama dia merasa kosong. Setiap kali ingin bercerita pada seseorang, nyalinya ciut, takut mendapat tanggapan, “Ah! Lemah kali kau!” di tahap ini, bayangan hitam itu menjadi lebih pekat, gelap dan berbentuk suram. Ia mulai ketakutan. Ingin rasanya mengatakan pada seseorang, bahwa ada bayangan hitam yang mengikutinya, tapi dia takut.

Lalu, dia menjadi tak ingin bergaul, merasa lingkungannya tak ramah. Semua manusia menjadi egois. Ingin ke psikolog, takut disangka orang gila. Tapi dia tahu masalahnya tak bisa ditanggungnya sendiri. Pikirannya pun terasa kosong, ia takut, ia gelisah, ia cemas.

Setiap malam mulai menangis sendirian. Pada siang hari, emosinya memuncak. Rasanya ingin marah, tapi tak tahu pada siapa. Pikirannya, jiwanya dan mulutnya mulai mengutuk diri sendiri, mengatai-ngatai dirinya bodoh, lemah, tak tangguh, tak dapat diharapkan, sesuai yang dikatakan orang-orang padanya saat ia mengeluh. Dia pun tak mau mengeluh pada Tuhan, karena menurutnya, Tuhan itu tidak adil padanya. Dia mulai membenci dirinya sendiri.

Bayangan hitam di pelupuk mata tadi semakin membesar, membentuk monster yang sepertinya sudah lama hidup dengannya. Monster itu memeluknya, seperti mengajaknya untuk pergi ke tempat lain, dia semakin ketakutan. Dia jadi begitu pemurung, sampai orang-orang terdekatnya pun heran melihat perubahannya. Namun malangnya, tak ada satu pun di antara mereka yang bertanya, “Kau kenapa? Kau baik-baik saja, kan?” tak ada satu pun.

Hingga kemudian, dia benar-benar tak bisa lagi menanggung beban masalahnya. Dia membenci dirinya yang lemah, yang tak tangguh, yang tak hebat seperti orang lain. Tak ada yang mau mendengarnya, tak ada yang mau menerimanya, tak ada yang mau bersamanya. Hingga meninggalkan dunia ini… mungkin adalah jawaban terbaik.

Dia.. lelah.

Lalu monster hitam gelap itu memeluknya dan berbisik padanya, “Istirahatlah, kau lelah. Mereka tidak akan mengerti apa yang sudah kau kerjakan. Menangislah malam ini, Sayang, lalu ikut denganku. Beban di pundakmu, biar aku yang urus. Kau… hanya perlu ikut denganku,”

Dia menangis sejadi-jadinya, terisak-isak, menggambarkan rasa sakit yang sudah lama dia derita. Bertahun-tahun, mulai dari bayangan hitam itu berbentuk titik kecil, hingga kemudian berubah menutup dunianya menjadi monster besar. Kemudian dia mengambil pena dan menuliskan curahan hatinya yang selama ini dia pendam.

Dia menuliskan, “Aku lelah.. aku ingin istirahat. Aku capek, pengin tidur. Monster hitam gelap itu sudah lama mengikutiku, aku takut, tapi kalian tak percaya saat aku mengadu. Aku menanggung banyak beban, aku cemas, aku tak percaya diri, aku mengkhwatirkan pekerjaanku, tapi kalian bilang aku lemah. Yah.. sepertinya memang aku lemah.

Monster hitam itu bilang, dia akan menanggung bebanku. Monster hitam gelap itu bernama depresi. Aku.. menyerah. Aku ingin istirahat. Setidaknya katakan padaku, aku hebat, aku sudah melakukan yang terbaik. Selamat tinggal.”

Lalu esoknya, kerumunan orang melihatnya tak bernyawa di kamarnya. Kabar berembus, dan mereka tetap bilang, “Bodoh sekali dia mau bunuh diri. Kenapa dia enggak cerita? Kenapa tidak curhat? Aku tidak menyangka dia melakukan tindakan bodoh seperti itu,”

Kita.. berada di zaman itu..

Tahu kenapa motto sebuah asuransi adalah Always listening, Always Understanding? Ya.. karena mendengar dapat membuat kita mengerti.

Penulis : Liska Rahayu (Jurnalis)

Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *