Penghasilanku, Tak Semanis Buah Daganganku

Foto : Ibu beru Bangun

MEDANHEADLINES.COM, Medan – Sore itu, Selasa (10/07/2018) cuaca tampak mendung gelap menyelimuti awan. Hiruk pikuk pedagang dan pembeli memecah kesunyian pasar terpadu Pandan yang tampak sepi pembeli. Beberapa pedagang pun bergegas mengemas barang jualan untuk kembali pulang.

Masih berlatarkan mendung kelam, seorang ibu tampak duduk sejenak melepas penat di sekitar dagangannya. Satu persatu buah jualannya dikemas ke dalam keranjang di sampingnya.

Ibu yang berkulit hitam manis yang ditemani oleh dua putrinya terlihat sesekali mengusap sedikit keringat di dahinya sambil berharap, masih ada pembeli yang membeli dagangannya.

Di bawah tenda biru yang menembus sengatan sinar matahari adalah tempat baginya untuk mencari beberapa lembar ribuan, untuk menambah kebutuhan hidup keluarganya.

Pagi hari, sebelum fajar menyingsing di ufuk timur, beru Bangun, sapaan akrab ibu itu sudah hadir di pasar yang masih tampak sunyi gelap untuk menyusun beberapa buah untuk dijualnya. Subuh itu, dia harus mampu melawan desiran dinginnya pagi yang menusuk ke pori-pori tubuhnya yang menuai.

Dengan menaiki mobil, ia datang bersama kedua putrinya dengan membawa dua keranjang yang dirakit dari rotan berisikan buah nenas dan jeruk. Walaupun kondisi pasar tampak sepi pembeli, setahun lamanya, ibu dari dua anak ini masih tetap bertahan berjualan di Pasar Terpadu Pandan. Alasannya berjualan sangat sederhana, ia hanya ingin berjuang demi masa depan kedua putrinya.

“Bila tua nanti, merekalah masa depanku dan suamiku,” ujarnya dengan percaya diri.

Pasar terpadu Pandan bukanlah seperti pasar-pasar yang pada umumnya berjualan setiap hari. Di pasar ini, para pedagang hanya dua kali dalam seminggu untuk berjualan.

Dengan kondisi pasar yang sepi, seharian berjualan, ia harus penuh sabar menelan rasa pahit sebagai pedagang dengan penghasilan yang tidak cukup untuk dibawa pulang.

“Iya beginilah kondisinya, kadang penghasilan itu tidak semanis buah ini,” ujarnya sambil merapikan dagangannya.

Walaupun kondisi pasar yang sunyi dari pembeli, rutinitas yang sudah setahun digelutinya tidak membuat Ibu beru Bangun menyerah dengan keadaan.

Hari demi hari masih ia jalani dengan terus berjualan dengan memegang teguh cita-cita untuk masa depan anaknya. Ia berharap, Pemerintah Tapanuli Tengah bisa menjadi pelangi bagi para pedagang untuk mengembangkan Pasar Terpadu Pandan seperti yang dicita-citakan. (hen)

Please follow and like us:
0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *