Kala Agama Jadi Bencana (Memahami Pemikiran CHARLES KIMBALL)

MEDANHEADLINES – Sepeninggal era-Nabi/Rasul yang berakhir ribuan tahun silam, agama menjadi satu-satunya penunjuk arah spritual dalam kehidupan manusia beragama, ditengah kehidupan manusia modern yang selalu memohon petunjuk pada rasionya sendiri. Meski rasio telah menjadi penunjuk jalan, namun dalam perjalanannya berbagai masalah kerap muncul ditengah umat manusia. Sebagian orang mengatakan, kini manusia kembali memasuki era-kegelapan (dark age) sebagaimana yang pernah terjadi pada era sebelum adanya Nabi, dimana manusia doyan pada konflik, peperangan, penindasan, perbudakan, perusakan, dan mengesampingkan etika-moralnya sendiri. Agama yang digadang-gadang menjadi solusi pun, kini justru menjadi bahagian dari masalah dimana agama-agama justru terlibat konflik yang serius dan tak lagi terdamaikan.

Tidaklah salah jika banyak orang bertanya, apakah agama adalah jalan keluar dari masalah, atau justru menjadi bencana bagi umat manusia?

Sebagian orang menjawab bahwa kini agama justru sebagai bencana. Sebagian yang lain mengatakan bahwa agama masih menjadi satu-satunya solusi bagi manusia. Ada yang berfikiran moderat mengatakan, agama tentu saja tidak pernah salah, sebab yang salah adalah para penganutnya yang melenceng dari perintah agama. Sementara mereka yang kritis menyimpulkan, mungkin saja ada yang salah dengan agama, atau mungkin saja kesalahan ada pada orang yang salah anggap terhadap agama.

Adalah Charles Kimball/CK seorang penulis Amerika, yang coba menjawabnya melalui buku yang ia buat dengan judul “Kala Agama Jadi Bencana”. Buku setebal 451 halaman ini, di terbitkan tahun 2013, yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dari judul aslinya “when religion becomes evil”, diterbitkan oleh Harper San Francisco. Penulisnya sendiri adalah seorang pendeta Kristen Baptis, yang dibesarkan oleh keluarga Yahudi dan memperoleh gelar Doktor Teologi (Th.D) dari Harvard University pada jurusan Perbandingan Agama dengan spesialisasi Studi Islam. Meski Kimball adalah seorang pendeta Kristen Baptis, namun di dalam buku itu dia sangat terbuka dalam membicarakan berbagai agama yang ada, dengan berupaya menjelaskan apa yang sesungguhnya tengah terjadi pada agama.

Apa yang Terjadi?

Sepintas dari judulnya, akan memunculkan kesimpulan bahwa Kimball sedang menyuguhkan fakta-fakta bahwa agama-agama kini telah menjadi bencana bagi manusia. Sebab disebalik banyak orang menyandarkan harapan pada agama sebagai jalan keluar mengatasi masalah, namun saat yang sama wajah agama kelihatan begitu menyeramkan sehingga menimbulkan banyak apatisme terhadap agama. Namun Kimball mencoba terbuka pada semua agama, untuk mendiskusikan berbagai upaya yang mungkin bisa mengatasi masalah konflik agama.

Dunia mungkin tidak pernah lupa, ada banyak peristiwa memilukan yang dilatarbelakangi oleh sentimen keagamaan, yang menyebabkan tragedi kemanusiaan yang memilukan dan tentu saja memantik antipati terhadap agama. Kita ingat ada peristiwa 11092001 yang menghancurkan gedung WTC di AS dengan korban ribuan jiwa, aksi-kasi teorisme di berbagai belahan dunia yang tiada henti, maupun perang antar agama yang tidak pernah berakhir dalam kehidupan manusia hingga saat ini. Semua itu telah membawa kebencian dan ketidak percayaan akan eksistensi agama-agama yang ada.

Kimball lebih jauh menjelaskan bagaimana efek peristiwa 1109 tersebut, yang telah membawa gejolak ditengah umat manusia dengan memunculkan banyak acara televisi dengan berbagai bahasan tentang keagamaan, menghidupkan banyak seminar dan dialog keagamaan, hingga melibatkan banyak latar belakang agama/suku/ras. Agama tiba-tiba menjadi sesuatu yang sangat rumit dipahami, sebab ketika banyak orang menganggapnya sebagai ajaran cinta-kasih dan jalan keselamatan, namun disisi lain justru banyak orang mencurigainya sebagai sumber masalah, dan sumber kejahatan serta sumber kepiluan dunia.

Namun, anggapan bahwa agama sebagai masalah bagi umat manusia tidak hanya klaim abad ke-21 sekarang ini saja. Sebab sebelum abad ke-19 yang lalu pun, banyak orang Eropa lebih memilih tidak beragama atau bahkan tak bertuhan (ateis), sebab mereka tidak lagi mempercayai eksistensi agama sebagai solusi/jalan kebenaran bagi umat manusia. Pada kondisi Eropa dan Dunia saat itu, Karl Max bahkan menyebut agama tidak lebih sebagai candu, yang membuat manusia mabuk/hilang kesadaran, yang menghilangkan rasionalitas manusia dan menjerumuskan manusia ke dalam kebenaran dogmatik. Sebelum Marx, Feuerbach bahkan lebih dahulu mengatakan bahwa ide tentang Tuhan itu sudah tidak orisinil lagi, sebab agama hanyalah hasil proyeksi dan rekayasa pikiran manusia semata demi kepentingannya sendiri.

Kala Agama Menjadi Bencana

 kapankah agama menjadi bencana? Menurut Kimball, agama menjadi bencana ketika para pelaku kejahatan yang mengatasnamakan agama, memberikan banyak alasan bahwa kejahatan mereka bersumber dari teks-teks yang ada dalam kitab suci, mereka bangga dengan perbuatan tersebut, mereka terlatih dan profesional dalam melakukan kejahatan, bahkan tidak punya rasa bersalah dan penyesalan sedikitpun akan tindakan tersebut.

Pada situasi seperti itu, agama dengan demikian telah menjadi korup/busuk. Busuknya agama setidaknya dapat dikenali melalui beberapa tanda yaitu: pertama, ketika suatu agama mengklaim kebenaran agamanya sebagai kebenaran tunggal dan mutlak/absolute. Kedua, adanya ketaatan yang buta kepada pemimpin keagamaan. Ketiga, agama mulai gandrung merindukan zaman ideal, lalu bertekad merealisasikan zaman tersebut ke dalam zaman sekarang. Keempat, agama membenarkan dan membiarkan terjadinya tujuan yang membenarkan segala cara. Kelima, adanya seruan perang suci demi mencapai tujuan.

Klaim kebenaran tunggal, ditandai dengan munculnya sikap eksklusif dalam beragama, yaitu ketika orang-orang mengatakan bahwa agamanya adalah satu-satunya agama yang benar, sementara yang lain harus dibasmi. Meski sikap eksklusif dalam beragama tidak terhindarkan dalam rangka menjaga komitmen dalam keimanan, akan tetapi ketika sikap itu diarahkan kepada pemeluk agama yang lain maka yang akan timbul adalah kebencian dan tak jarang memunculkan perasaan menghina agama tersebut.

Sementara adanya ketaatan buta terhadap pemimpin agama, ditandai dengan adanya doktrin yang berasal dari figur-figur pemimpin yang memliki otoritas kharismtaik. Pada banyak kasus justru ketaatan ini memunculkan perbuatan-perbuatan yang destruksi sebagaimana terjadinya pembunuhan dan bunuh diri masal.

Pada bahagian lainnya, sikap keagamaan yang merindukan zaman ideal, lalu  bertekad merealisasikan zaman tersebut kedalam zaman sekarang dengan berbagai cara, juga hasilnya adalah dorongan untuk berbenturan dan peperangan, dimana agama digunakan untuk membenarkan dan membiarkan tujuan yang membenarkan cara yang kerap berupa kekerasan. Seperti halnya konflik Hindu dan Muslim yang hampir meletuskan perang antara negara India dan Palestina.

Seruan (pekikan) perang suci yang selalu di gelorakan antar agama, jelas menjadi sumber bencana yang menyuulut peperangan antar umat manusia dewasa ini, dimana melalui perang suci itu diyakini sebagai satu-satunya cara untuk mencapai tujuan. Sejarah perang suci dapat dilihat dari perang salib yang sangat melegenda, yang telah memakan banyak sekali korban jiwa, oleh orang-orang Kristen dan orang-orang Islam dan juga orang-orang Yahudi dengan mengatasnamakan agama.

Adapun solusi untuk menghindari agama menjadi korup/busuk tersebut, Kimball menjelaskan bahwa agama-agama yang ada mestinya menjadi agama perdamaian. Agama mestinya menjadi sumber perdamaian, bukan sumber konflik. Agama-agama yang ada semestinya menggali sumber-sumber dan riwayat ‘ruhaniahnya’ yang autentik, yang bersih dari olah-pikir manusia, dimana agama sejatinya memang sebagai agen perdamaian. Menurut Kimball, contoh ini dapat dilihat dari perjuangan para-Nabi yang semuanya membawa misi perdamaian. Baik pada agama Islam maupun di dalam agama Kristen, sangat disadari bahwa hubungan antar umat agama haruslah di junjung tinggi sebagaimana yang terdapat pada Konsili Vatikan II, maupun sebagaimana yang ada dalam Piagam Madina.

Rasio Manusia Sebagai Sumber Bencana

Tidak dipungkiri, pasca peristiwa 1109 pandangan negatif tentang agama seketika meningkat, dan banyak orang menganggap agama sebagai suatu masalah sekaligus bencana. Setidaknya hal itu bisa dilihat dari buku-buku best-seller antara tahun 2004-2007, seperti : The End of Faith: Religion, Terror, and the Future of Reason (2004) dan Letter to a Christian Nation (2006) karya Sam Harris, The God Delusion (2006) karya Richard Dawkins, dan God is not Great: How Religion Poison Everything (2007) karya Christopher Hitchens.

Ketiga penulis berargumen, bahwa pandangan agama tradisional sesungguhnya telah mentok/mandeg/buntu bagi usaha-usaha perubahan kehidupan manusia, sehingga kemunculan kaum saintis lebih memiliki dukungan yang luas dan mampu menjawab persoalan-persoalan manusia dengan cara yang rasional. Pendeknya dengan lahirnya rasio manusia sebagai suatu kekuatan, sains sukses mengolok-olok agama. Apa yang dilakukan Galileo dengan penyelidikan ilmiahnya, yang menyebabkan tekanan terhadap otoritas agama, adalah bukti bahwa sains telah ‘menaklukkan’ agama.

Namun Kimball menjelaskan, kita tidak boleh menjadikan agama sebagai ‘kambing hitam’, ‘terdakwa’ dan tumbal dari apa yang terjadi hari ini. Mestinya semua orang juga memberi tempat yang benar dan layak, pada mereka yang mengatakan bahwa agama sesungguhnya bukan sumber masalah. Sebagaimana yang dikemukakan Huston Smith melalui karyanya The World Religions, dimana ia berpendapat bahwa meski manusia telah memasuki era-modern bahkan pasca-modern, namun krisis yang paling utama terjadi pada abad ke-20 sesungguhnya adalah krisis spritual, dimana manusia kehilangan pegangan ilahiahnya.

Sebabnya saintisme dan materialisme telah berkonspirasi untuk menghalangi banyak orang dari melihat gambaran besarnya tentang spritualitas. Sains bahkan dengan gembira mengeleminasi agama, dengan menerobos dan melapangkan jalan manusia ke arah peperangan senjata kimia, nuklir, dan senjata biologi pemusnah massal yang jelas-jelas menyengsarakan umat manusia.

Kalau mau jujur, mestinya semua kekosongan yang diakibatkan konspirasi saintisme dan materialisme hanya dapat diisi oleh agama yang mengajarkan cinta kasih, kebaikan, keharmonisan, kedamaian, demi mencapai kebahagiaan. Semua itu menurut Huston Smith sebagai nilai-nilai luhur dan inti ajaran agama seperti Hindu, Buddha, Konfusius, Tao, Islam, Yahudi, Katolik, dan Kristen. Semua pembawanya dibaluri keluhuran budi yang menimbulkan aura keteladanan yang sejuk bagi para pengikutnya. Sebagaimana yang dikatakan Frithjof Schuon, “to have lived one religion fully is to have lived all religions”. Karena itu, berkelahi antar agama yang tidak ada contohnya, hanyalah menempatkan manusia pada puncak kebodohannya, yang tidak memahami spirit yang sama yang berasal dari Tuhan.

Huston Smith dalam bukunya yang lain “A Guide to Our Wisdom Traditions” mengatakan, pertikaian antar pemeluk agama hanyalah membuat dunia kacau-balau, dimana kedamaian dan keharmonisan tercabik-cabik. Padahal semua ajaran agama sama, bersifat universal, fundamental, dan substansial. Warta utamanya juga sama, menyangkut pesan kebersamaan, keadilan, kasih sayang, dan pembersihan diri dari berbagai kotoran jiwa yang bisa melukai kebahagiaan. Jelas agama tidak memberi tempat ajaran-ajaran yang bisa menggiring penganutnya pada sikap sombong dan arogan atas kebenaran agama sendiri (truth claim) dan pengafiran (menuduh orang lain kafir) atas orang “di luar dirinya,”.

Karena itu, memahami agama-agama yang ada secara mendalam adalah sangat penting dan mendesak saat ini. Salah satu caranya dapat dilakukan melalui pendekatan deskriptif dan objektif. Meskipun, memahami secara objektif tidaklah mudah bahkan sangatlah sulit, karena membutuhkan waktu. Namun pada masa kini menurut Kimball untuk mendapatkan data-data yang akurat dan objektif sangatlah mudah, tidak seperti masa lalu.

Penutup

Pada akhir bukunya Kimbal menutup dengan ayat Al-Qur’an surah Al-Maidah ayat 48 yang artinya adalah: Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan- Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allahlah kembali kamu  semuanya, lalu diberitahukan-Nya apa yang telah kamu perselisihkan itu.

Intinya, perbedaan dalam seluruh aspek kehidupan manusia adalah sunatullah, merupakan kehendak Tuhan. Karena itu perbedaan merupakan ujian yang diberikan Tuhan kepada manusia. Apakah manusia lulus atau gagal dalam ujian perbedaan tersebut? Hanya manusia sendiri yang bisa menjawabnya! Harapannya, ketika menerima ujian tersebut, mestinya manusia sudah siap sedia menggunakan perangkat yang telah diberikan Tuhan padanya (pikiran, pendengaran, penglihatan) dengan sebaik-baiknya, sehingga ia menjadi bijaksana dan lulus dari ujian tersebut. Sebab kata Tuhan, hanya satu kaum yang sukses dalam ujian tersebut yaitu mereka yang selalu berlomba-lomba berbuat kebajikan.

Sumber: (Dr Abdul Wahid – sumber: www.koran-jakarta.com), Huston Smith (2015), “Agama-Agama Manusia; A Guide to Our Wisdom Traditions”, Huston Smith (1991), Agama-agama manusia, terjemahan, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Penulis : Dadang Darmawan

Dosen FISIP USU

Please follow and like us:
error0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *