SANKSI DO MAHASISWA UNIMED: ANTARA KETEGASAN DAN OTORITARIAN

MEDANHEADLINES – Sekitar sebulan lalu, sanksi Drop Out (DO) telah resmi diberikan kepada Ilham, mahasiswa Pendidikan Geografi Universitas Negeri Medan (UNIMED). Alasannya, ia terbukti memobilisasi mahasiswa baru Jurusan Pendidikan Geografi UNIMED ke Sibolangit pada 23 September 2016 tanpa izin dari pimpinan Jurusan, Fakultas dan Universitas dalam acara yang  diberi nama Kegiatan Belajar Bersama Alam (KBBA).

Agenda tahunan yang sudah berlangsung sejak “zaman tak enak” itu dilakukan  dalam rangka menyambut mahasiswa baru. Sebagai Ketua Panitia, Ilham bernasib paling sial dengan mendapat sanksi Drop Out (DO) melalui SK Rektor No:0325/ UN33.Kep/ KM/ 2016. Beberapa teman lain mendapat sanksi beragam, mulai dari sekedar Surat Peringatan, Skorsing 1 Semester hingga Pembatasan jumlah SKS. Yang pasti, seluruh panitia (berasal dari stambuk yang sama) mendapat ‘hadiah’ dari rektor UNIMED.

Entah atas dasar apa klasifikasi hukuman yang berbeda-beda itu diberikan. Pertama, Setiap orang yang pernah kuliah pasti tau, kegiatan semodel KBBA bukanlah digagas, disiapkan dan ditanggungjawabi oleh panitia (lewat ketua panitia) semata. Kegiatan demikian tanpa sadar telah terstruktur serta melibatkan berbagai steakholder (alumni, senior, panitia, peserta) yang sifatnya jadi tanggung jawab kolektif. Tanpa kontribusi salah satu pihak mustahil acara akan berlangsung. Apalagi acara tersebut tidak berada dalam naungan wadah tertentu (organisasi intra maupun ekstra kampus). Dana kegiatan pun tidak diambil dari kampus, namun dari usaha panitia mencari dana baik dari alumni, senior, panitia dan peserta. Di kegiatan model begini, panitia boleh dikatakan cuma pelaksana teknis yang kebagian tugas untuk masak dan cuci piring.

Kedua, kepanitiaan KBBA telah terbentuk berbulan-bulan lalu. Bahkan jauh sebelum mahasiswa baru (MABA) masuk kampus. Apakah  ada peringatan terhadap para panitia untuk tidak melakukan kegiatan tersebut sejak jauh-jauh hari? Jawabannya tidak! Apakah pihak kampus tidak mengetahui ada tradisi demikian? Mustahil. Toh mereka-mereka juga lulusan UNIMED. Justru pihak kampus baru mendadak ‘heboh’ sejak peristiwa naas (bus masuk jurang) menimpa mahasiswa Pendidikan Antropologi UNIMED yang bermaksud melakukan kegiatan serupa. Uniknya, hukuman yang diderita Ilham Dkk tidak diberikan pada panitia kegiatan di Antropologi.

Tiap kampus memang punya aturan sendiri terkait kegiatan semodel KBBA. Pihak UNIMED misalnya menyatakan kegiatan ini dilarang berdasarkan beberapa hal: Pertama, Surat Edaran Dirjen Belmawa Kemristekdikti No : 253/B/SE/VIII/2016 Tentang Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru, Kedua, Surat Edaran Wakil Rektor III  Nomor 429/UN33.III/KM/2016 tentang larangan mengadakan kegiatan orientasi mahasiswa baru di luar PAMB (Penerimaan Awal Mahasiswa Baru) di dalam dan di luar kampus 8 agustus 2016, Ketiga, Surat edaran Dekan FIS bernomor 04299/UN33.3/KM/2016 tentang larangan mobilisasi mahasiswa baru, 6 september 2016.

 

Jika kegiatan semodel KBBA dianggap terlarang alias haram, maka pencegahan sejak jauh-jauh hari  berupa pendekatan-pendekatan persuasif lah yang harus digencarkan. Sosialisaikan secara efektif dengan mengundang mahasiswa untuk saling bertukar argumentasi. Panggil panitia, rasionalisasikan bahwa kegiatan tidak boleh dilakukan. Sayangnya, kampus justru memilih cara mirip (maaf) preman. Menahan bus peserta yang sudah bersiap berangkat, Mengerebek lokasi kegiatan, lalu mengintimidasi dan memberi hukuman. Wajar muncul resistensi dari pihak mahasiswa yang acaranya dibubarkan secara paksa.

Belum lagi berbagai ancaman terhadap para mahasiswa yang mulai berani “ribut” pasca kegiatan. Ancaman berupa pengurangan nilai, SKS dll jadi satu hal yang tak terelak-kan. Imbasnya, mahasiswa terkotak-kotak dan berpecah belah dalam menyikapi sanksi yang diterima. Ada yang peduli, ada yang apatis. Ada yang melawan, ada pula yang memilih diam karena takut terkena imbas hukuman. Mahasiswa, calon pemimpin masa depan sejak dikampus sudah diajarkan pada situasi “membebek” agar bisa selamat. Sungguh kasihan.

PENUTUP

Tulisan ini hadir sebagai wujud keprihatinan atas demokrasi, kebebasan berkumpul dan berpendapat.  Kampus harusnya menjadi contoh bagaimana hal demikiaan berjalan ideal. Terjadi saling tukar pendapat, bermusyawarah, berargumentasi, berbagi ide dan gagasan secara fair. Intimidasi dan tindakan otoriter bukanlah ciri sebuah kampus. Bukankah itu yang diajarkan para dosen kepada mahasiswa? Atau jangan-jangan mahasiswa sedang belajar demokrasi diatas kepala orang-orang yang  berpikiran feodal. Entahlah.

Saya menilai ada kegagalan pihak kampus dalam upaya membendung kegiatan-kegiatan semodel KBBA di Pendidikan Geografi UNIMED. Kegagalan tersebut harusnya diakui, diperbaiki dan dicari solusinya secara arif dan bijaksana. Janganlah kelemahan itu justru dijadikan alasan untuk mengintimidasi, bertindak otoriter, anggar kuasa agar dinilai tegas dalam menegakkan aturan. Ah, itu tidak fair Pak.!

 

Penulis ; Amin Multazam/

Kepala Operasional KontraS Sumut

Please follow and like us:
0

One thought on “SANKSI DO MAHASISWA UNIMED: ANTARA KETEGASAN DAN OTORITARIAN”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *